Di satu sudut jalanan, seorang lelaki tampan,sebutlah ia saya(bukan tokoh samaran) sedang termangu sambil menutup hidung mencegah masuknya radikal bebas. Mata saya menyapu semua sisi jalanan, menyapa satu persatu setiap pemandangan yg saya lihat. Sejenak perhatian saya terfokus pada sepasang muda-mudi yg berpenampilan keren(menurut mereka sendiri, kalau menurut saya itu alay) tengah berpagut mesra, bergandengan tangan dan si pria membelai rambut si wanita, cuek begitu saja tak sadar jika saya dan Rakib Atid memperhatikan...saya hanya bisa bertanya-tanya apakah mereka pasangan legal atau bukan. Tapi sudahlah, kita tinggalkan saja mereka. Rasanya tak pantas jika show pasangan tadi menjadi headline news saya hari ini.
Sementara itu perspektif lain menyajikan pemandangan yg lebih bersahabat buat mata saya...hmm...
Namun spontan fokus saya teralihkan oleh sebuah kereta tua kelas ekonomi yg melintas dgn akselerasi perlahan, melaju membelah rintik hujan yg mulai membasahi tanah. Kereta yg mengalihkan perhatian sy dari seorang bidadari berkerudung merah yg sedari tadi berdiri menanti hujan berhenti.
Ahh..puji syukur ya Rabb telah mengirimkan kereta ini datang utk menjaga pandangan&eksistensi prinsip yg sy pegang didalam diri. Membuat saya tidak tenggelam dlm zona memori yg menguatkan sekaligus melemahkan saya secara bersamaan..
Dan saya kembali ke alam sadar..kendati pelangi belumlah nampak, sy lebih memilih utk berdiri mengikis memori dan berlari menyisir derasnya hujan...
Itu mungkin hanya sekilas cerita absurd yg mewarnai hari-hari sy. Satu diantara sekelumit perjalanan panjang saya selama lebih dari 20 tahun menghirup oksigen di dunia..hmm,bukan waktu yg sebentar memang.
Dan setiap menginjak bulan mei, selalu saja karakter melankolis sy terasa lebih dominan, sehingga tulisan alakadarnya ini transit di mata kamu.
Namun ada yg beda,,kali ini otak kiri sy berputar begitu kencang. Rentang pergantian numerik ini membuat sy mencoba berpikir lebih logis. Meski sy masih sensitif akan suasana, pada akhirnya pikiran sy mengekstrak sebuah kesimpulan; bahwa umur hanyalah angka-angka, satu dimensi waktu yg seharusnya dihargai seperti hal lain. Dihargai secara esensi bukannya seremoni, tidak utk diistimewakan secara berlebihan apalagi utk dirayakan.
Kita (saya dan kamu) sebaiknya memang menghindari perayaan, karena bagaimanapun tradisi ulang tahun adalah dari tradisi eropa kuno utk mengusir roh jahat yg datang di hari kelahiran seseorang dan sebagai persembahan utk kuil dewa bulan,Artemis (tentang ini nanti akan qt bahas lebih mendalam,sepakat?!).
Ulangtahun atau milad atau apapun itu namanya(yg jelas2 bukan berasal dari budaya islam) seharusnya dijadikan renungan akan countdown kematian yg semakin menjelang, bukan utk sarana pesta2&legalitas hura-hura.
Mungkin terasa naif bagi kita jika bersenang-senang disaat hari dimana umur kita makin tergerus hanya utk mengikuti budaya barat, dan memaksakan diri agar hidup modern (sy lebih suka menyebutnya konsumtif). Bukankah sewaktu lahir dari rahim malaikat yg dikirim utk menjaga qt (baca:ibu), qt dalam keaadaan menangis??
Hidup adalah sebuah metamorfosa, perubahan ulat yg menjijikan menjadi kupu-kupu indah nan mengagumkan.
Hidup merupakan Pencarian esensi kehidupan yg sesungguhnya meski sebagian besar orang tak peduli akan hal itu karena fokus mereka hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis semata.
Hari ini, 19 mei..hari dimana ibu meregang nyawa agar saya lahir ke bumi... Sebuah renungan yg saya tulis, smoga menjadi inspirasi. Meski saya yakin, ada banyak pengalaman harga dalam hidupmu yg lebih pantas utk menjadi inspirasi&membuka mata hatimu.
Terimakasih buat semua doa yg kamu kirim buat saya.. Semoga doa2 itu pun berbalik buatmu..dan smoga doa2 ini tidak hanya di hari ini saja tetapi juga di tiap sujud malammu..
Keep smile&spirit..Be right back 4 next note.. :)


0 komentar:
Posting Komentar