Album berwarna coklat tua yang tergeletak di step 2 lemari itu nampak berdebu. Perlahan saya bersihkan debunya untuk kemudian membukanya. Oh, ini foto-foto zaman dahulu. Ada 1 foto seorang lelaki tersenyum simpul dalam balutan baju putih khas meneer belanda. Di belakangnya, latar gedung tua dengan gaya art deco indische menambah kesan gagah lelaki itu. Di bagian bawah itu ada sebuah tulisan " Rd. Abdul Horiz , 1925 ".
" itu foto kakekmu.." suara ngebass ayah mengagetkan saya.
"beliau dipanggil yg maha kuasa tahun 1982, saat ayah masih kelas 2 stm. Jadi...kamu memang belum pernah bertemu dengannya secara langsung.." Ayah memulai pembicaraan, sementara saya masih terdiam menatap wajah tampan kakek yang mengalir deras pada cucunya ini. :)
" dulu.. kakekmu itu adalah pegawai karesidenan di batavia, seseorang yang cukup terpandang. Namun seiring invasi belanda di batavia yang terus berlangsung, kakekmu memilih berhenti dari posisinya untuk ikut berjuang memerdekakan diri. Meninggalkan kenyamanan untuk bergerak hengkangkan kolonialisme belanda.."
Saya mulai tertarik dengan cerita ini, kisah nyata yang tidak dibumbui macam2 hingga jauh dari cerita aslinya.
"hmm..terus, bagaimana lagi ceritanya?"
"dimasa agresi militer, kakekmu juga ikut longmarch bersama ribuan massa lain. Mereka berjalan kaki dari batavia yang mulai chaos menuju jogjakarta yang lebih aman untuk melindungi rakyat dari serangan musuh. Beliau memang orang yang rendah hati dan memiliki solidaritas tinggi, itu pula yang tercermin dalam sikapnya sehari-hari.."
Ayah berhenti menenun helaian kata. Sejenak berhenti, matanya menerawang seakan menyibak tirai masa lalu.
"terus apalagi..?" saya mencoba melumerkan kebekuan.
" wah..kamu ini. Kalau diceritakan semua sih, 4 gelas kopi sampai subuh juga gak bakal cukup nemenin ayah.."
Dia kemudian sedikit bercerita, bertahun-tahun sesudah masa agresi yang disusul zaman pemberontakan, kakek merintis karier sebagai sutradara film. Ada 1 foto yang mengabadikan kakek saat syuting di pulau bali, sedang mengarahkan artisnya dalam sebuah scene.
Tanpa foto hitam putih itu mungkin saya sedikit kurang percaya fakta itu. Ternyata tanpa sekolah sinematografi pun bisa menjadi sutradara rupanya. Saya jadi ingin bertemu kakek, meski itu tak mungkin.
Bercerita dan mendengarkan sebuah kisah di masa lalu seperti menyibak tirai yang berlapis. Semakin disibak semakin penasaran untuk terus dibuka satu persatu. Seperti ingin hanyut dan tenggelam dalam arusnya.
Saya jadi membayangkan bagaimana jika kakek saya dan kakek atau buyut kalian semua diberi kesempatan untuk kembali ke zaman sekarang. Hidup dan menyaksikan negeri ini, negeri yang dulu mereka perjuangkan dengan darah kini dijajah bangsanya sendiri. Mereka yang dulu memperjuangkan hak masyarakat yang dirampas inlander mungkin kini menangis melihat hak manusia itu kini dicerabut dari fitrahnya. Tak ada kesempatan dan hak mendapat pendidikan, kesehatan dan hak kolektif lainnya secara setara dan objektif.
Mereka yang dulu memperjuangkan papua, jawa dan daerah lain kini meratapi kenyataan bahwa komoditi SDA daerah itu dilokalisir penguasa dan pejabat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka yang memperjuangkan kemerdekaan dari kebodohan, hak manusia untuk eksis, harus mengurut ada melihat bangsanya dibodoh-bodohi, dihina dinakan tanpa henti, ditipu bangsa asing dan bahkan bangsanya sendiri yang melakukan korupsi menjijikan.
Hhh..
Kita hanya bisa menghela nafas menatap bangsa yang dulu jaya, rimba yang dulu perkasa.
Mencari kisah masa lalu dan kemudian melihat realitas masa kini, melulu mendatangkan kepedihan atas kejadian yang telah terjadi. Memang benar kata orang bijak, mengambil lilin lalu menyalakannya jauh lebik baik dari sekedar mengutuk kegelapan.
Entah berapa banyak bumi berrevolusi terhadap matahari. Dan sudah berapa banyak pula kehidupan merevolusi dirinya sendiri. Tangis dan tawa menjadi bagian kehidupan yang selalu berganti-ganti.
Dalam itu pula manusia lahir ke muka bumi menyandang misi yang dia dialogkan dalam kandungan ibunya ketika berumur 4 bulan, yaitu hidup. Hidup yang penuh eksistensi. Hidup yang penuh ibadah. Menorehkan tinta emas dalam kertas yang masih murni.
Dan bumi menjadi saksinya, bumi yang menjadi rekam jejak manusia memilih kehidupannya.
" hidup itu seperti lari estafet. Harus selalu ada yang memegang tongkat. Jika dulu kakek yang berjuang, lalu kemudian ayah..dan kini tongkat estafet itu ada di tangan kamu.."
"apa saya harus ikut berjuang mencari kebenaran, ikut memperjuangkan nasib umat&bangsa. Saya tidak yakin akan sanggup ayah.. Saya ingin hidup biasa saja..!!"
" memperjuangkan kebenaran itu tak selalu dengan demonstrasi, atau perang bahkan revolusi.. Bekerja mencari nafkah untuk anak istri, mendidik mereka secara benar juga memperjuangkan kebenaran. Teruslah belajar dan gunakan potensimu untuk kepentingan umat.."
"tapi...saya takut, ayah.."
"bersikaplah sebagai lelaki.. Hidup itu memang terjal. Isi hatimu dengan keyakinan. Dan beribadahlah, niatkan semua itu untuk beribadah. Maka Allah akan menutup kelemahan2 kita, dan yakinlah kita tidak selemah yang kita kira.."
lama saya terdiam.
" nak, kamu pernah dengar bahwa hidup yang paling indah itu adalah hidup yang berjalan diatas bara..?? Tak usah takut akan panasnya, jalani saja. Kamu akan mengetahui bahwa semua itu indah. Dan, bukan hanya ayah yang akan bangga ketika kau menapakkan kaki di atasnya, tapi juga Dia yang Maha indah.. Dia yang tiap hari kamu sembah..!!"
seperti menunggu kepingan totem berhenti berputar, saya diam dan termangu.
Hidup memang sebuah pilihan. Hidup biasa atau luar biasa.
Hidup biasa tanpa rekam jejak yang disisipi kesalahan&kebodohan.. Atau hidup luar biasa untuk berbuat benar. Meski untuk berbuat benar itu, kita harus berkorban. Kadang merelakan apa yang paling kita inginkan.
Mata saya berkaca-kaca menahan kristal air membuncah di pelupuk mata. Sampai malam larut saya masih memikirkannya. Sampai saya menanti di gerbang mimpi. Untuk kemudian membisikkan kata-kata padaNya. Untuk menerbangkan kupu-kupu doa beruntai harapan ke singgasana Arasy yang agung, agar Dia yang maha indah itu memberikan keberanian. Keberanian untuk menjalani kehidupan. Amin.

