RSS Feed
This is a mood message, you can edit this message by editing file message.php, or you can also add here some advertisement.

Senin, 07 Maret 2011

Hidup Yang (luar) Biasa

Album berwarna coklat tua yang tergeletak di step 2 lemari itu nampak berdebu. Perlahan saya bersihkan debunya untuk kemudian membukanya. Oh, ini foto-foto zaman dahulu. Ada 1 foto seorang lelaki tersenyum simpul dalam balutan baju putih khas meneer belanda. Di belakangnya, latar gedung tua dengan gaya art deco indische menambah kesan gagah lelaki itu. Di bagian bawah itu ada sebuah tulisan " Rd. Abdul Horiz , 1925 ".

" itu foto kakekmu.." suara ngebass ayah mengagetkan saya.

"beliau dipanggil yg maha kuasa tahun 1982, saat ayah masih kelas 2 stm. Jadi...kamu memang belum pernah bertemu dengannya secara langsung.." Ayah memulai pembicaraan, sementara saya masih terdiam menatap wajah tampan kakek yang mengalir deras pada cucunya ini. :)

" dulu.. kakekmu itu adalah pegawai karesidenan di batavia, seseorang yang cukup terpandang. Namun seiring invasi belanda di batavia yang terus berlangsung, kakekmu memilih berhenti dari posisinya untuk ikut berjuang memerdekakan diri. Meninggalkan kenyamanan untuk bergerak hengkangkan kolonialisme belanda.."

Saya mulai tertarik dengan cerita ini, kisah nyata yang tidak dibumbui macam2 hingga jauh dari cerita aslinya.

"hmm..terus, bagaimana lagi ceritanya?"

"dimasa agresi militer, kakekmu juga ikut longmarch bersama ribuan massa lain. Mereka berjalan kaki dari batavia yang mulai chaos menuju jogjakarta yang lebih aman untuk melindungi rakyat dari serangan musuh. Beliau memang orang yang rendah hati dan memiliki solidaritas tinggi, itu pula yang tercermin dalam sikapnya sehari-hari.."

Ayah berhenti menenun helaian kata. Sejenak berhenti, matanya menerawang seakan menyibak tirai masa lalu.

"terus apalagi..?" saya mencoba melumerkan kebekuan.

" wah..kamu ini. Kalau diceritakan semua sih, 4 gelas kopi sampai subuh juga gak bakal cukup nemenin ayah.."

Dia kemudian sedikit bercerita, bertahun-tahun sesudah masa agresi yang disusul zaman pemberontakan, kakek merintis karier sebagai sutradara film. Ada 1 foto yang mengabadikan kakek saat syuting di pulau bali, sedang mengarahkan artisnya dalam sebuah scene.

Tanpa foto hitam putih itu mungkin saya sedikit kurang percaya fakta itu. Ternyata tanpa sekolah sinematografi pun bisa menjadi sutradara rupanya. Saya jadi ingin bertemu kakek, meski itu tak mungkin.

Bercerita dan mendengarkan sebuah kisah di masa lalu seperti menyibak tirai yang berlapis. Semakin disibak semakin penasaran untuk terus dibuka satu persatu. Seperti ingin hanyut dan tenggelam dalam arusnya.

Saya jadi membayangkan bagaimana jika kakek saya dan kakek atau buyut kalian semua diberi kesempatan untuk kembali ke zaman sekarang. Hidup dan menyaksikan negeri ini, negeri yang dulu mereka perjuangkan dengan darah kini dijajah bangsanya sendiri. Mereka yang dulu memperjuangkan hak masyarakat yang dirampas inlander mungkin kini menangis melihat hak manusia itu kini dicerabut dari fitrahnya. Tak ada kesempatan dan hak mendapat pendidikan, kesehatan dan hak kolektif lainnya secara setara dan objektif.

Mereka yang dulu memperjuangkan papua, jawa dan daerah lain kini meratapi kenyataan bahwa komoditi SDA daerah itu dilokalisir penguasa dan pejabat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka yang memperjuangkan kemerdekaan dari kebodohan, hak manusia untuk eksis, harus mengurut ada melihat bangsanya dibodoh-bodohi, dihina dinakan tanpa henti, ditipu bangsa asing dan bahkan bangsanya sendiri yang melakukan korupsi menjijikan.

Hhh..

Kita hanya bisa menghela nafas menatap bangsa yang dulu jaya, rimba yang dulu perkasa.

Mencari kisah masa lalu dan kemudian melihat realitas masa kini, melulu mendatangkan kepedihan atas kejadian yang telah terjadi. Memang benar kata orang bijak, mengambil lilin lalu menyalakannya jauh lebik baik dari sekedar mengutuk kegelapan.

Entah berapa banyak bumi berrevolusi terhadap matahari. Dan sudah berapa banyak pula kehidupan merevolusi dirinya sendiri. Tangis dan tawa menjadi bagian kehidupan yang selalu berganti-ganti.

Dalam itu pula manusia lahir ke muka bumi menyandang misi yang dia dialogkan dalam kandungan ibunya ketika berumur 4 bulan, yaitu hidup. Hidup yang penuh eksistensi. Hidup yang penuh ibadah. Menorehkan tinta emas dalam kertas yang masih murni.

Dan bumi menjadi saksinya, bumi yang menjadi rekam jejak manusia memilih kehidupannya.

" hidup itu seperti lari estafet. Harus selalu ada yang memegang tongkat. Jika dulu kakek yang berjuang, lalu kemudian ayah..dan kini tongkat estafet itu ada di tangan kamu.."

"apa saya harus ikut berjuang mencari kebenaran, ikut memperjuangkan nasib umat&bangsa. Saya tidak yakin akan sanggup ayah.. Saya ingin hidup biasa saja..!!"

" memperjuangkan kebenaran itu tak selalu dengan demonstrasi, atau perang bahkan revolusi.. Bekerja mencari nafkah untuk anak istri, mendidik mereka secara benar juga memperjuangkan kebenaran. Teruslah belajar dan gunakan potensimu untuk kepentingan umat.."

"tapi...saya takut, ayah.."

"bersikaplah sebagai lelaki.. Hidup itu memang terjal. Isi hatimu dengan keyakinan. Dan beribadahlah, niatkan semua itu untuk beribadah. Maka Allah akan menutup kelemahan2 kita, dan yakinlah kita tidak selemah yang kita kira.."

lama saya terdiam.

" nak, kamu pernah dengar bahwa hidup yang paling indah itu adalah hidup yang berjalan diatas bara..?? Tak usah takut akan panasnya, jalani saja. Kamu akan mengetahui bahwa semua itu indah. Dan, bukan hanya ayah yang akan bangga ketika kau menapakkan kaki di atasnya, tapi juga Dia yang Maha indah.. Dia yang tiap hari kamu sembah..!!"

seperti menunggu kepingan totem berhenti berputar, saya diam dan termangu.

Hidup memang sebuah pilihan. Hidup biasa atau luar biasa.

Hidup biasa tanpa rekam jejak yang disisipi kesalahan&kebodohan.. Atau hidup luar biasa untuk berbuat benar. Meski untuk berbuat benar itu, kita harus berkorban. Kadang merelakan apa yang paling kita inginkan.

Mata saya berkaca-kaca menahan kristal air membuncah di pelupuk mata. Sampai malam larut saya masih memikirkannya. Sampai saya menanti di gerbang mimpi. Untuk kemudian membisikkan kata-kata padaNya. Untuk menerbangkan kupu-kupu doa beruntai harapan ke singgasana Arasy yang agung, agar Dia yang maha indah itu memberikan keberanian. Keberanian untuk menjalani kehidupan. Amin.


kiri, kanan dan jalan lurus

suatu hari, di sebuah forum tempat manusia berkumpul dan merenung mencari sesuap hikmah..

"kamu kiri ya? sosialis dong!"

"kamu kanan ya..??wah..liberal! kapitalis ah!!"

kiri?kanan? seperti rute ojeg saja.

di lain kesempatan..

" eh elu islam moderat ya!!"

"nah eluu, islam fundamental..!!"

moderat dan fundamental tu campuran bahan buat bikin bom ya..??

Itulah komentar atau lebih tepatnya 'tuduhan' yang sempat rekan2 saya alami ketika mereka mengutarakan pendapatnya. dikotak-kotakkan. Kesannya menjadi labelisasi. Dan saya kurang suka dengan pelabelan macam itu.

Saya jadi teringat ucapan imam ali bin abi thalib ; "Kanan dan kiri adalah jalan yang sesat, sedangkan jalan yang ada di tengah adalah jalan yang lurus dan benar"

apakah kiri dan kanan diatas adalah yang dimaksud imam ali..hmm..saya tidak mau berspekulasi.

***

Kiri dan kanan. Dewasa ini manusia sepertinya dihadapkan pada 2 pilihan saja, tidak ada yg lain, termasuk buat kita umat islam. Jika bukan kapitalis ya sosialis.

Bagi orang2 yang apatis, mementingkan kenikmatan duniawi mereka memilih liberal dengan kapitalis sebagai ideologi hidup. Asal diri ini senang, merajalela menumpuk harta. Semua hanya dinilai dari materi.

Dalam ekonomi kapitalis, harga adalah satu2nya pendukung. Mengapa? Yang menyebabkan seseorang bekerja keras adalah 'penghargaan' kepadanya. Karenanya, orang yg memanfaatkan produk dan jasa harus rela membayar mahal.

Dunia pendidikan diswastanisasika. Para alumninya rela membayar mahal walaupun alumninya kelak menjadi seorang profesional, birokrat, pengangguran atau malah menjadi koruptor dan pembunuh.

Begitu pula dunia kesehatan. Hanya segelintir orang yg bisa menikmati fasilitas RS, klinik, dokter dengan baik karena biayanya teramat mahal. Orang miskin hanya bisa menjerit. Maklum lah, fasilitas&alat2 kesehatan itu mahal. Jadi kalo bayarnya murah atau gratis, kapan break even pointnya..??

Sementara itu di sisi lain ada orang2 yg memiliki kepekaan&solidaritas tinggi. Membutuhkan perubahan akan keadaan, bosan dengan stagnansi yang banal. Mereka menginginkan revolusi karena prihatin melihat pendidikan semakin mahal, angka pengangguran melambung tinggi. Hidup sehat hanya mimpi bagi kaum proletar.

Lihatlah. Diatas tanah hasil penggusuran rumah kumuh dibangun mall tempat kaum borjuis menghamburkan uang tanpa peduli si miskin yg putus sekolah hanya menatap mereka dengan mata hampa dibalik jendela. Di tempat lain seorang pencuri ayam dibakar massa, sementara koruptor dan mafia pajak bebas berlibur kemana-mana.

Hukum laksana pisau yg tajamnya hanya ke bawah. Begitu tajam saat mengiris-iris si miskin, tapi tiba2 mendadak tumpul saat menghadap orang terhormat dan berduit.

Dunia seolah tanpa keadilan. Mereka pun memimpikan dunia tanpa kelas. Inkuisisi jalanan terjadi, revolusi sampai mati. Mengganyang kapitalis untuk menggantinya dengan sosialis yg dinilai lebih beradab dan merata.

Tapi mari sejenak kita tengok dengan perspektif lain. Bukankah mereka, kaum liberal yg kapitalis dan revolusioner yg sosialis itu telah menerima islam sebagai keyakinan mereka? Bukankah mereka telah bersaksi bahwa Allah, tuhan maha esa yg mereka percayai itu ada??

Tak mustahil mereka sangat yakin dan tidak meragukan kebenaran islam.

Akan tetapi, banyak dari kita semua tidak menemukan solusi atas semua permasalahan. Itu tadi, karena selama ini kita dan mereka hanya mengenal 2 pilihan: kapitalis dan sosialis untuk menyelesaikan pelbagai masalah tsb. Kita ini hanya melihat kiri dan kanan, padahal ada jalan yg lurus.

Boleh jadi kita ini tidak mendapat pemahaman tentang islam sesungguhnya. Kita hanya mengenal islam yg parsial, islam yg telah mengalami penyunatan sana sini.

Sehingga kita semua mengenal islam hanya sebatas ritual belaka. Solat, zakat, puasa, naik haji tanpa mengetahui esensi dibalik itu semua. Tanpa pernah mendapat pemahaman bagaimana islam mengatur perekonomian, pemerintahan, pendidikan, hukum dsb. Tanpa juga tahu islam yg mengatur ranah politik. Hukum Allah yg mengatur, bukan hanya mengganjar setiap kejahatan tapi juga mencegah agar kejahatan tak terjadi.

Kepingan2 puzzle yg hilang inilah yg membuat islam terkotak-kotakkan. Jadilah kita mengenal 'berbagai macam islam' . Umat dan ulama muslim yg compromise dengan segala kebijakan pemerintah disebutnya moderat. Sedangkan yg menentang kemunkaran dilabeli islam garis keras. Yang ritualnya tidak jalan dinamai islam ktp. Apalagi kini muncul islam liberal. Kelompok yg begitu agresif mengkritisi al qur'an tapi mendadak manut disodori pemikiran barat.

Semua pelabelan itu tentu sangat mengganggu. Islam dikotak2an, padahal islam itu jelas dan satu, satu keyakinan. Berpijak pada alquran dan hadits.

Bagaimana mungkin dikatakan islam jika habis2an mengkritisi alquran tanpa pernah mengkajinya?

Bagaimana bisa dikatakan islam jika memuja2, bahkan mencium telapak kakinya kiai yg berkata bahwa alquran adalah kitab paling porno? Naudzubillah.

Kita jadi begini karena menjauh atau dijauhkan dari pedoman hidup kita, alquran. Sehingga kita tidak memahami islam seutuhnya. Bukankah dlm an-nisa 59, allah berfirman:

" hai orang2 yg beriman, taatilah Allah, RasulNya dan taatilah pemimpin (ulil amri) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat ttg sesuatu, maka kembalikanlah pada Allah (alquran) dan rasul(sunahnya), jika kamu benar2 beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya"

saat saya mengetik tulisan ini, adzan isya berkumandang. 10 menit berlalu, saya masih asyik di hadapan monitor.

Teman di sebelah saya mengingatkan:

"wah..katanya pengen memahami islam yg seutuhnya, kok solatnya masih ditunda-tunda sih..!!"

ah benar juga dia..

untuk memulai sesuatu yg benar, memang harus diawali dengan benar. Harus diawali dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga..