Kalau seorang abang sesekali mengalah pada adiknya, wajar! Namanya juga hubungan persaudaraan, sang kakak perlu pandai2 menjaga egonya biar jadi teladan buat adiknya.
Namun bagaimana bila sang abang diam saja apalagi terus mengalah, padahal si adik sudah kelewat nakal dan terus bikin repot?? Ini sih udah kurang ajar.
Adik macam begini ini perlu digebuk bokongnya, paling tidak dikasi pelajaran lah! Jika terus didiemin, dijamin deh si abang bakalan kehilangan wibawa, dianggap takut dan minder atau malah dianggap ayam sayur!!!
Seandainya Jawaharlal Nehru masih hidup, PM india yg pertama kali memberi nama negara itu: MALAYSIA mungkin tak akan pernah menduga nama temuannya itu menjadi sumber sengketa di asia tenggara. Setelah memerdekakan diri dan menjadi koloni inggris, malaysia menjelma sebagai salahsatu kekuatan mapan di asia. Tak cuma itu, negara yg boleh dibilang adik serumpun indonesia ini harus diakui menjadi tetangga yg paling nyebelin buat indonesia. Dari tahun 60-an di era soekarno hingga kini era yudoyono, malaysia acapkali menjadi sumber masalah di bidang ekonomi, politik, budaya bahkan olahraga. Sang adik: malaysia memang paling pandai memanfaatkan kebaikan kakaknya, indonesia. Padahal kalau sudah kejepit, si abanglah yg paling pertama dimintai tolong.
Sejarah mencatat tahun 1969, kejuaraan merdeka games di malaysia nyaris batal digelar akibat kerusuhan rasial di kuala lumpur. (cat: jika dikomparasikan dgn kondisi sekarang, merdeka games ini levelnya masih dibawah AFF cup lho)
Namun karena perlu memulihkan citranya di mata internasional, malaysia pun giat mencari solusi. Akhirnya mereka meminta bantuan pada indonesia agar tetap mengirim timnasnya. Alasannya politis. Dengan kehadiran indonesia yg saat itu masih disegani di region asia, malaysia dapat mengklaim dan menunjukkan pada dunia bahwa kuala lumpur telah aman dari keributan. Indonesia bingung karena timnas harus tampil mempertahankan titel juara King's Cup di bangkok yg penyelenggaraannya berdekatan dengan merdeka games.
Namun malaysia terus merajuk. PM Malaysia yg juga presiden AFC(federasi sepakbola asia) Tunku Abdul Rahman mengirim surat pribadi kepada ketua umum pssi saat itu, Kosasih Purwanegara S.H lewat kertas surat langsung berlogo perdana mentri malaysia.
" jika dari saudara serumpun bantuan ini tak kami peroleh, hendak kemana lagi kami berharap??" demikian inti surat itu.
Dari semula bingung, si abang akhirnya mengalah. Maka berangkatlah timnas garuda menuju KL utk akhirnya merebut Merdeka Games. Namun karena keletihan, misi utama mempertahankan gelar di king's cup gagal!!
***
Cerita tentang kelembekkan dan ketidaktegasan para pemimpin bangsa semakin terlihat di era kekinian. Malaysia sadar betul cara memanfaatkan kelemahan indonesia ini. Mereka semakin kesetanan untuk mengklaim apa2 yg dimiliki indonesia. Mulai dari blok ambalat, angklung, reog, batik hingga pulau bali yg hampir semua disikapi pemerintah dengan diam. Belakangan, nama irfan bachdim pun ikut2an diklaim sebagai milik malaysia!!
Entah obsesi macam apa yg dimiliki sang adik. Apa mungkin ingin mempermalukan sang kakak? Padahal rasanya tak usah lah main klaim2an, toh indonesia dan malaysia masih saudara serumpun bahkan seakidah karena mayoritas penduduk merupakan muslim.
Namun yg paling memungkinkan, ini adalah semacam provokasi dari malaysia. Seperti yg dilakukan para suporternya dalam pertandingan final AFF cup, dengan mengarahkan sinar laser ke arah para pemain berulang kali. Dan mereka berhasil.
Pemain indonesia terprovokasi, kehilangan konsentrasi dan kemudian menderita kekalahan 3 gol tanpa balas. Hal yg sama sudah dipraktikkan terhadap pemain vietnam, namun rupanya tidak diwaspadai indonesia.
Bicara soal provokasi yg sering dilakukan malaysia, ada baiknya kita mengetahui ihwal mula konfrontasi indonesia vs malaysia. Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaysia pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord. Oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru. Berbagai provokasi akhirnya dijalankan dengan demonstrasi anti-Indonesia yang terjadi di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda. Maka amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak dan terjadilah perang saudara.
Saya sepakat dengan Greg Poulgrain,dosen University of New England (UNE). Dia membuat tesis yg kini telah dibukukan bersama Pramudya Ananta Toer yg berjudul: The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965. Dia berpendapat bahwa bahwa yg menciptakan "konfrontasi" adalah Inggris.Tujuannya menyelesaikan proses dekolonisasi di Asia Tenggara tapi ttp menjaga agar pemerintah yg baru pro-investasi Inggris. Maka yg didukung jadi poros kekuasaan baru di Malaysia dan Singapura adalah elite politik setempat yg pro-Barat.
Dalam desain Asia Tenggara yg dibuat Inggris, Bung Karno ditiadakan. Karena dia anti-Barat dan anti-modal asing. Lagi pula di sebelah utara Asia Tenggara, kekuatan komunis mulai meningkat, terutama di Vietnam.Maka provokasi dilakukan thd Bung Karnodengan memperhitungkan bahwa sumber ekonomi Indonesia tak cukup kuat utk perang menghadapi Inggris.Dengan demikian, dgn konfrontasi yg panjang, ekonomi Indonesia akan ambruk dan Bung Karno akan jatuh.
Terbawa oleh semangat revolusioner yg menggebu, Bung Karno terpancing oleh provokasi Inggris. Dan lalu utk memperkuat daya perangnya, Indonesia hrs berhutang banyak dari Uni Soviet untuk membeli senjata.
Sedangkan Malaysia dan Singapura tak perlu belanja senjata: kedua negara baru itu dilindungi militer Inggris. Maka sementara di Indonesia perekonomian makin terkuras, di Malaysia pemerintahnya punya cukup dana utk memperkuat sendi ekonomi. Dgn adanya konfrontasi pula, Inggris berhasil membuat Serawak -- yg ketakutan -- bergabung dgn malaysia. Dilihat kini, rencana Inggris spt yg dipaparkan Greg Poulgrain berhasil. Bung Karno jatuh ketika perekonomian Indonesia gawat.
Inggris memang sangat berpengalaman memprovokasi Indonesia. Pertama tentu saja pertempuran Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan. Kedua dalam memprovokasi para pemuda di Sumatra Timur dengan berhasil melikwidasi para bangsawan wilayah tersebut. Apa yang kelak dinamai "revolusi sosial", yang salah seorang kurbannya adalah penyair Amir Hamzah, ini sasarannya jelas: menghapus pengaruh Indonesia lewat para bangsawan Sumatra Timur dari koloni Inggris di Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara.
Indonesia yang anti kolonialisme- imperialisme-kapitalisme membuat Inggris gelisah kawasannya di Asia Tenggara. Negara kolonial tua ini, tak rela kehilangan sumber dollarnya dari Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara. Malaya adalah penghasil besar timah, karet, sawit, Kalimantan Utara, di sini Brunai, adalah tambang minyak bumi terkemuka, sedang Singapura pelabuhan transit impor-ekspor Asia Tenggara, juga salah satu pusat pengendalian kekuasaan regional baik dengan intelijen maupun dengan pemasokan senjata dan serdadu. Itulah Inggris....
****
Akhirnya saya ingin mengungkapkan kesimpulan singkat, dengan berbagai teori tadi bahwa tak seharusnya kita mudah terpancing oleh berbagai provokasi dari siapapun itu. Perlu penelitian objektif dan perspektif yg berbeda. Namun tak selayaknya pula menjadi diam apalagi "lembek" menghadapi berbagai provokasi macam itu.
Terlebih itu dilakukan oleh "adik" sendiri. Kalau sudah nakal ya jewer aja dehh !!!!

