Selasa, 04 Oktober 2011
Wake (me) up when September Ends !!
Minggu, 21 Agustus 2011
Peran Amerika Serikat dibalik Kemerdekaan Indonesia
Ada yang menarik dalam suatu acara diskusi rutin di Kantor INSISTS. Tiar Anwar Bachtiar, Kandidat Doktor Sejarah Universitas Indonesia-dan juga Peneliti Sejarah di INSISTS- mengungkapkan bahwa sedikit banyak Amerika Serikat memiliki andil dalam memuluskan kemerdekaan Indonesia. Ia mengungkapkan dalam suatu kajiannya, bahwa Belanda yang hancur lebur dalam PD II akhirnya menerima proposal bantuan recovery dari AS. Dengan catatan Belanda harus berniat tulus untuk melepaskan Indonesia sebagai negara merdeka dan mengalihkannya kepada Negeri Paman Sam.
Tiar Anwar tidak sendiri. Adalah Francis Gouda, salah seorang Guru Besar Sejarah di jurusan Ilmu Politik Universitas Amsterdam dalam salah satu bukunya yang berjudul "Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942". Menurut Gouda, sadar akan kuatnya posisi Amerika Serikat dalam hubungan internasional paska Perang Dunia II, Para tokoh-tokoh politik Indonesia mencoba segala usaha untuk menarik simpati Amerika agar mendukung kemerdekaan Indonesia. Caranya dengan mengutus beberapa perwakilan Republik Indonesia ke AS. Salah1nya adalah Sudarpo Sostrosatomo, pemuda berumur 20an berpendidikan tinggi yg pada 1949 ditugaskan menjadi atase Pers di New York. Dalam situasi itu, dengan cerdas Sudarpo membandingkan revolusi kemerdekaan Indonesia dengan revolusi Amerika melalui makalahnya yang berjudul "It's 1776 in Indonesia" dan menyebarkannya kepada para wartawan, pejabat publik Amerika, dan perwakilan internasional di PBB. Perbandingan yang terlalu dipaksakan, namun makalah tersebut cukup menarik perhatian pejabat publik Amerika yang memang selalu mengagung-agungkan deklarasi kemerdekaan Amerika pada tahun 1776.
Sedangkan di dalam negeri, para pemuda nasionalis melakukan aksi coret-coret di spanduk dan tembok-tembok kota dalam bahasa Inggris, mereka tak asal corat-coret, melainkan mengutip kalimat-kalimat pidato tokoh kemerdekaan Amerika seperti Jefferson, Linclon, dan lain-lain. Mereka berharap coretan tersebut bisa menarik simpati pasukan AS di Indonesia. Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga menerbitkan seri perangko bergambar arsitek utama Republik Indonesia yang disandingkan dengan para tokoh kemerdekaan Amerika, antara lain perangko bergambar George Washington berada dibelakang gambar Soekarno, Hatta bersanding dengan Abraham Lincoln, dan Sjahrir yang bersanding dengan Thomas Jefferson.
Sekalipun Gouda pada kesimpulannya pesimis Amerika sebagai "pihak yang bertanggung jawab" atas kemerdekaan Indonesia, bukti yg ia ungkapkan dalam bukunya menggambarkan satu bentuk besar pengharapan Indonesia kepada Amerika bagi tercapainya kemerdekaan Negara dengan mayoritas muslim ini. Menariknya, sedikit banyak "kenangan indah" ini tertutup dalam pelajaran Sejarah-sejarah kita.
Aset Indonesia yang dikuasai Amerika.
Kita mulai dari tambang emas di ujung Indonesia. Menurut Marwan Batubara- tokoh muslim yang getol membuka aib sumberdaya Indonesia yang dikeruk AS- baru pada tahun 1995, Freeport secara resmi mengakui menambang emas di Papua. Sebelumnya sejak tahun 1973 hingga tahun 1994, Freeport berdalih hanya sebagai penambang tembaga, tidak lebih. Jumlah volume emas yang ditambang selama 21 tahun tersebut tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Masih menurut Ketua KPK-N (Komite Penyelamat Kekayaan Negara) itu, Freeport mengelola tambang terbesar di dunia di berbagai negara, yang didalamnya termasuk 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia. Namun, sebagai hasil eksploitasi potensi tambang tersebut, hanya sebagian kecil pendapatan yang masuk ke kas negara dibandingkan miliaran US$ keuntungan yang diperoleh Freeport. Kegiatan penambangan dan ekonomi Freeport telah mencetak keuntungan finansial bagi perusahaan tersebut namun tidak bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan. Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700 km).
Kejinya, untuk menutupi aksi illegal dan korupnya, Freeport-McMoRan disinyalir telah memberi uang kepada Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI agar pertambangan mereka di Papua tidak banyak diganggu, baik oleh pemerintah maupun lembaga nonpemerintah pemerhati lingkungan. Koran The New York Times telah melakukan investigasi berbulan-bulan untuk mengetahui masalah itu. Koran tersebut berhasil mendapatkan laporan perusahaan Freeport yang menunjukkan, pada 1998-2004 perusahaan tambang emas dan tembaga menghabiskan dana US$ 20 juta atau sekitar Rp 200 miliar untuk personel TNI dan Kepolisian RI. Kita juga melihat kapitalisasi Asing yang menjajah di Indonesia, seperti Exxonmobile. Masih menurut Marwan Batubara, porsi bagi hasil Exxon dan pemerintah ditetapkan sebesar 100 : 0. Artinya, pemerintah sama sekali tidak memperoleh bagi hasil, karena seluruh keuntungan produksi gas yang dihasilkan Natuna merupakan hak milik Exxon selaku kontraktor. Alasannya, eksploitasi D-Alpha Natuna membutuhkan investasi biaya yang besar dan biaya pemisahan CO2 sangat tinggi. Sedangkan potensi penjualan gas saat itu masih rendah. Karena itu, bagian 100% keuntungan bagi kontraktor dianggap hal yang wajar.
Itu baru dari segi Sumberdaya. Dalam segi menghancurkan Islam dari akar pemikirannya, Amerika cukup getol memberi beasiswa bagi para Sarjana Muslim. Salah satunya, beasiswa Fullbright. Tak hanya itu, mereka juga mengucurkan dana untuk membangun American Corner di kampus-kampus bergengsi di Indonesia. Menyebarkan faham Demokrasi, Pluralisme Agama, Hak Asasi Manusia, Kesetaraan Gender dan sebagainya adalah proyek-proyek think-thank Amerika yang menjadi karakter dasar menghancurkan Islam dari segi yang paling vital, yakni bidang keilmuan. Maka itu, amat wajar jika banyak mahasiswa musim yang pikirannya sudah "sakit", berkata Usman Bin Affan seorang nepotis. Al Qur'an itu palsu dan gincu. Bahkan ada yang meragukan kenabian Baginda Muhammad SAW. Bagi mereka, Kajian Islam rasa Amerika lebih bernalar!
Bahkan ketika penulis menjadi guru di madrasah, ada survey yang dilakukan lembaga sosial ke sekolah kami untuk mengukur bagaimana tingkat penerimaan siswa terhadap multikulturalisme. Dan yang melakukan survey adalah wanita muslimah berjilbab rapat, tapi secara pemikiran sudah membarat. Sekalipun track record sekutu Asing seperti Amerika yang telah menjajah Indonesia sekian lama, masih ada sebagian muslim Indonesia yang memandang Pemerintah Amerika sebagai bangsa bukan rezim, bahkan sampai sekarang tetap menengadahkan tangan meminta belas kasih Obama kepada dunia Islam, hanya karena Pidato Obama di Al Azhar.
Padahal Dunbar Ortiz , Professor Emeritus di Departemen Studi Etnik California State University memberikan respon atas pernyataan Obama, bahwa statement-statement Obama yang simpatik dengan Islam. Ortiz menungkapkan bahwa Amerika Serikat didirikan sebagai negara pendatang dari Eropa dengan peta dan rencana yang telah disiapkan untuk menjajah benua, memperluas 13 daerah koloni dari pendirian negaranya. Dia melanjutkan bahwa Amerika Serikat telah dilahirkan pertama kali sebagai kekuatan penjajah. Wilayahnya yang sangat luas diperoleh dengan cara menduduki, mengokupasi, dan memerintah dengan cara menghancurkan lebih dari 300 suku bangsa yang merupakan penduduk asli. Amerika juga memaksa ratusan hingga ribuan penduduk Missisippi Timur keluar dari kampung halamannya, mengumpulkan mereka berdesak-desakkan di wilayah yang ditinggali suku Indian di Oklahoma. Amerika dengan rakusnya menganeksasi separuh wilayah Meksiko. Memaksa orang-orang Afrika menjadi budak yang menggarap lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas. Dalam abad pertamanya, Amerika memperoleh wilayah dengan cara penaklukan, menciptakan dasar ekonomi untuk industri Kapitalisme yang kemudian mendominasi dunia. Dan hingga kini, di tengah keterpurukannya Amerika tetaplah negara penjajah sejati.
Bangkitlah umat islam!!
Sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar menjadi Negara maju dengan fondasi akhlak Islam yang senantiasa bersyukur atas limpahan kekayaan yang diberikan oleh Allah SWT. Lihatlah. Lebih dari 70 persen atau tiga belas juta jenis tumbuhan dan satwa di dunia hidup di hutan tropis Indonesia. Negara yang memiliki 515 jenis mamalia alias binatang menyusui (urutan kedua di dunia, hanya kalah tipis dari Brazil), 39 persennya endemik Indonesia atau tidak dapat dijumpai di negara lain. Negara paling kaya dengan jumlah jenis burung sebaran-terbatas yang terbanyak di dunia, dan 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di negeri kita. Memiliki sekitar 1.400 jenis hanya dapat disaingi oleh Brazil. Di bidang kelautan, Indonesia memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan laut Indonesia Indonesia merupakan salah satu pusat kekayaan karang dan ikan di dunia. Negara terkaya dengan lebih dari 38.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi alias tumbuhan yang memiliki akar-batang-daun yang jelas dapat dibedakan. Dengan 477 jenis dan 225 di antaranya endemik, Indonesia memimpin dalam kepemilikan jumlah jenis palem di dunia.
Pertanyaannya kenapa bangsa besar ini justru jatuh terpuruk? Tak lain, kehancuran Indonesia diawali dengan tidak bersyukurnya kita atas nikmat dan berkah yang sudah Allah turunkan. Umat Islam yang justru bahu membahu mengusir penjajah, justru kini dimusuhi, diburu, dibunuh, dan diberangus haknya, lagi-lagi atas dalih terorisme yang lagi-lagi hasil pesanan Kilat Amerika yang mesti dihantar dengan cepat oleh jongos-jongos bangsa ini.*) Dari dulu praktik mental-mental penghianat atas tahta dan kuasa sudah berlangsung cukup lama. Ini menjadi kuat aromanya ketika dialektika Jakarta Charter sedang hangat-hangatnya. Dhurodin Mashad, dalam bukunya "Akar Konflik Politik Islam Di Indonesia", mencatat, bahwa Piagam Jakarta yang dirumuskan melalui perdebatan panjang, dibatalkan hanya karena usulan satu orang asing: Kaigun Jepang! Singkatnya Opsir Kaigun adalah tokoh yang memberitahu Hatta akan lepasnya Indonesia Timur yang dihuni kaum Kristiani jika masih ngotot mempertahankan Islam sebagai dasar Negara. Apa yang terjadi, Tokoh-tokoh bangsa yang notabene muslim tapi sekuler itu, dengan sigap melakukan perubahan Piagam Jakarta dengan waktu yang sangat singkat: 15 Menit. Padahal betapa panjangnya pertarungan wacana antara Tokoh Islam melawan Tokoh Nasionalis itu yang rasanya tidak pantas dihancurkan dalam waktu belasan menit. Inilah benih-benih mental pengkhianat Bangsa yang notabene sudah berlangsung pada detik-detik kemerdekaan bangsa. Belum jika dihitung pengkianatan dan dusta Soekarno kepada Daud Beureuh yang menjanjikan Aceh sebagai daerah kawasan syari'at yang lagi-lagi dimentahkan oleh Soekarno.
Umat islam di negara ini dan di dunia dapat bangkit jika kita bersatu dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya pihak yang patut kita sembah.
Ingatlah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 186, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Lalu teguran Allah bagi hamba-hambanya yang tidak bersyukur "Bukankah Dia (Allah) yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan Menghilangkan kesusahan dan Menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." (QS. An-Naml, 62).
"Satu hal yang amat saya tegaskan di sini adalah keharusan kita untuk kembali kepada Islam. Islam yang benar. Islam yang menyeluruh yang mengembalikan diri kita - sebagaimana yang dulu pernah terjadi - menjadi sebaik-baik ummat yang pernah dihadirkan untuk seluruh ummat manusia. Tanpa kembali kepada Islam, maka nasib yang akan kita alami, sungguh amat mengerikan, dan masa depan pun akan demikian gelap gulitanya." (Dr. Yusuf Qaradhawi, Mengapa Kita Kalah di Palestina?)
(Di bajak dari tulisan Pizzaro N. Tauhidi. Diedit seperlunya oleh vincent.dagant.blogspot.com)
Kamis, 07 Juli 2011
Bandung, 19 Mei #2
Judul lagunya seurieus?? Bukaan. Postingan berikut ini adalah tulisan saya beberapa waktu yg lalu. Sudah cukup lama dan kesannya usang, tapi saya yakin masih relevan untuk dibaca.
Berminat untuk membacanya? Jika kamu masih memiliki urusan atau pekerjaan, maka sebaiknya selesaikanlah terlebih dahulu sebelum membacanya. Jika kamu memang gak suka baca atau kamu adalah pecinta sastra-sastra picisan, mungkin lebih baik kamu tinggalkan saja tulisan ini daripada membunuh waktumu selama beberapa menit.
Namun walaupun kamu pecinta sastra roman tapi kamu tetep ngotot ingin membacanya, maka terusin aja deh. Asalkan kamu janji untuk gak ngefans sama saya begitu kamu selesai membacanya . Hehe. Please enjoy it…
***
Serasa di kebun binatang! Itu yg saya rasakan tadi malam. Gimana enggak? Konsentrasi saya hancur berkeping-keping layaknya zombie yang dibantai Alice Project di Resident Evil. Maksud baik saya ke warnet ini seketika luluh lantak seperti gunung yang beterbangan layaknya anai-anai dalam film 2012. Semua karena indera pendengaran saya menerima rentetan peluru kata-kata sarkas yang ditembakkan mulut anak-anak seumuran Nobita bahkan Sinchan yg lagi maen game online Pointblank!
Saya jadi mual seolah habis nonton Putri yang Ditukar. Kuping saya jadi merah merona kaya si cepot dimabuk asmara. Wajah saya pun mendadak mirip Lee Min Ho si artis korea (eh, kalo ini sih udah mirip dari dulu..)
Btw, Kenapa sih penjaga warnet ini diem aja liat para bocah ngomong kaya gitu? Terpenjara rasa enggan dan malas-kah?
Arghh.. daripada lama-lama disini bikin saya marah trus sekujur tubuh saya jadi hijau kaya Hulk. Dan lama-lama disini bisa chaos kaya kota Gotham yg terkena teror Joker; lebih baik saya percepat kunjungan di warnet ini. Segera, dalam waktu kurang dari 1 jam saya posting note di fb&blog, lalu berselancar mencari pengedar narkoba.. eh maksudnya mencari data, dan akhirnya melaksanakan tugas mulia: meng-hidden tanggal lahir di pesbuk!! Alasannya?? Ah,suka-suka saya dong. FB saya ini...
Dan ah..waktu engkau cepat berlalu. Menukik-nukik bagaikan Penguin of Madagaskar mematuk memangsa ikan sarden. Melesat laksana Mitsubishi Evo 7 yg dikendarai Brian O'Connor di 2fast&2furious. Dan kadang membuat kita terlena seperti lagunya Ikke Nurjanah. *Lho?*
Waktu yang cepat memaksa tubuh saya sesaat berhibernasi. Lalu otak saya dengan cepat berresonansi mencoba menerobos spektrum mimpi. Dan tanpa mengalami Inception berkali-kali, akhirnya mimpi membuat saya bertemu dengan hari ini.
Saya senyum-senyum sendiri kalau ingat mimpi semalam. Enggak. Saya enggak ketemu Asmiranda, walau saya yakin dia lagi rindu sama saya...biasa lah, cinta lokasi karena main bareng di film Dalam mihrab cinta..hehehe.. bersabarlah.. Saat rindu menggebu tetaplah menunggu, saat cemburu membelenggu cepatlah berlalu..(hueks)
Eniwei, di mimpi tadi saya jadi Spiderman yang perkasa menyelamatkan kota NewYork, menghajar dr.Octophus yg jumawa tapi membisu sejuta kata tak berdaya di hadapan Mary Jane yang sungguh jelita..
Walaupun cuma mimpi, tapi saya mau berkata jujur pada kalian semua bahwa saya adalah..hmm.. sini mendekat, saya bisikkin..sebenernya saya adalah Spiderman! Kamu pasti gak percaya. Hehe..maksudnya,saya&Spiderman punya banyak persamaan.
Coba aja deh kamu deketin foto saya sama fotonya Peter parker dan cari 5 perbedaan. Beda jauh kan? Maklum, saya kan emang lebih mirip Dude Herlino.
Ngomong2 soal Peter Parker alias Spiderman, kalo kamu nonton filmnya di season1&2, kamu bakal menemukan sisi humanis dari seorang superhero. Tentang seorang pembela kebenaran yang nyatanya hanya manusia biasa yang kadang bikin kita berseloroh "ehm..gue banget!!".
Semua hal dalam realita kehidupan. Tentang kuliah&nilai akademisnya yg rendah sampai dosen menyebutnya mahasiswa cerdas tapi malas (persis seperti dosen saya;om Ridwan kamil menilai saya..). Lalu tentang hari-harinya yang dihabiskan untuk memberantas kejahatan (baca: kemungkaran). Tentang cintanya yang kandas bersama MJ karena tuntutan harus berbuat benar.
Dan betapa kehidupan pribadinya sering dikorbankan demi membela manusia banyak.
Namun yang menyakitkan dari semua itu adalah opini liar tentang pembela kebenaran dari orang sekitarnya -yang nyata2 kawan atau bahkan keluarga- malah gak berpihak pada apa yg kita lakukan demi kebaikan umat manusia.
Peter parker pun mengalami perang batin -seperti yang sering kita alami-. Meski gak sedahsyat perang Troy vs Athena atau Alien vs Predator, tetep aja Peter harus berulangkali bermonolog;
apakah aku gak boleh mendapatkan apa yg aku inginkan, dan memiliki apa yg aku butuhkan?? Apa aku gak bisa kaya akh Fahri di Ayat-ayat cinta yg kehidupannya sempurna dan punya 2 istri cantik kaya Aisyah&Maria? Apa aku gak bisa kaya Markus Horison, yang sekali menikah langsung poligami menikahi 2 cewe, Kiki ama lia?
Jika saya mengalami apa yang Peter parker alami, mungkin saya sudah pensiun sebagai pembela kebenaran lalu menerima tawaran untuk gabung sebagai personil ke-8 Sm*sh atau menerima pinangan MD production buat membintangi sinetron “Dari Sujud ke Sujud” biar beradu akting lagi sama Asmiranda, biar populer dan biar banyak duit buat ngelamar doi secepatnya.
Tapi..
Setiap manusia itu punya pilihan bukan? Mau hidup 'normal' yg terlena fatamorgana dunia atau menjadi manusia pejuang yang berjuang dan mengajak umat manusia bersama-sama membela kebenaran?
Seperti kata Uncle Ben; kekuatan yang besar selalu diiringi tanggung jawab yg besar pula. Manusia yang benar akan menyadari hal ini..
Memang untuk melakukan hal yang benar itu kita harus berkorban dan tabah. Bahkan terkadang merelakan apa yg kita cintai, apa yang kita impikan.
Meski begitu, bukan berarti kita gak bisa menikmati apa yg menjadi hak kita. Bukan berarti kita gak bisa meraih cita-cita kita. Asal semuanya dilakukan secara proporsional, gak berlebihan dan gak melanggar syariat.
***
Heiii...ada yg nyaris saya lupakan. Bukan..bukan...Saya gak memakai daleman kebalik kaya Superman. Tapi Hari ini saya tepat berusia...hmmm... Ya kira-kira seusia Peter Parker saat nembak MJ, atau seusia Jake Dawson saat tenggelam di kapal Titanic. Umur dan ketampanan saya gak jauh beda lah sama mereka. :)
Jatah hidup saya emang berkurang. Tapi gak berarti hari ini untuk diingat-ingat, diperingati, diistimewakan apalagi dirayakan. Emangnya mau ngerayain pengusiran roh jahat kaya zaman kegelapan eropa kuno apa..
Dan lagi, apa sih yang patut kita rayakan? Merayakan keberhasilan hidup selama setahun kebelakang, atau mencoba berlari dari realitas yang gak mungkin dihindari? atau mungkin sejenak melupakan rasa takut akan kematian?
Bukankah ini sebuah paradox: merayakan saat-saat dimana kematian semakin mendekat?
Walau sering dikira sebagai Spiderman, saya lahir sebagai muslim lho. Dan akan selamanya sebagai seorang muslim.
Demi mempertahankan eksistensi muslim yang benar, rasanya kita harus menjauhi setiap perbuatan bid'ah kaya euforia ulangtahun atau milad..perbuatan yang sama sekali gak dicontohkan oleh teladan kita, oleh pahlawan kita: Rasulullah SAW.
Jujur saja. Setiap manusia itu membutuhkan pahlawan dalam hidupnya. Orang yg rela berkorban,berhati mulia dan menjadi tauladan yang menuntun kita berbuat benar...dan, kamu tentu gak nyangka bahwa sebenernya banyak orang menginginkan kita menjadi pahlawan mereka.
Kawan, Hidupmu adalah milikmu. Hidupmu yang singkat ini terlalu berharga untuk kau sia-siakan. Hidupmu yang sedang berjalan ini terlalu semu untuk kamu isi dengan berbagai hal klise; hanya mencari pemenuhan kebutuhan hidup, tanpa pernah kamu mau berbuat benar dan memperjuangkan kebenaran.
Selalu ada sejuta alasan untuk membuat diri menjadi pengecut. Tapi, tentunya kita semua ingin menjadi pemenang kehidupan. Bukan begitu, kawan?
#Bandung, 19 mei 2011
Minggu, 15 Mei 2011
Educrtizion
Berbicara tentang dunia pendidikan. Jika saya dan kamu mau objektif melihat dunia pendidikan diwilayah indonesia ini, nampak jelas bahwa edukasi kita berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Boleh sepakat atau tidak, ini hanya pendapat saya pribadi. Pendidikan adalah salahsatu akar kunci berkembangnya umat yang sedang dalam keadaan terpuruk sedemikian rupa. Maka, ketika komponen2 dalam dunia ini terkonsepsi dalam sebuah "sistem" yang mungkin diciptakan hanya untuk kepentingan sebagian golongan, apa yang dapat diharapkan untuk mengentaskan kebodohan (kejahiliyahan) ??
Hal pertama yang saya kritisi adalah materi pendidikan. Kenapa? Ini adalah bentuk ketidaksetujuan saya terhadap materi yang semakin sekuler. Materi yang saya maksud tentu terkait dengan ruang dan waktu yaitu "materinya sendiri", kurikulum, dan waktu yang mengekang potensi. Hanya terfokus pada kehidupan duniawi yang menjauhkan kita dari kehidupan ukhrawi-akhirat- yang justru kekal. Pelajaran2 sains malah menitikberatkan pada profesi berbayar sebagai tujuan akhir,bukannya menjadikan sains sebagai ibadah.
Pelajaran kewarganegaraan menempatkan nasionalisme,membela negara,bekerja untuk negeri sebagai prioritas utama manusia, bukan penghambaan pada Dia yg telah menciptakan manusia. Sedangkan dalam islam sudah jelas bahwa nasionalisme adalah ashobiyah. Dan tidak masuk surga orang-orang yang mati dalam ashobiyah. Memangnya kalau sudah mati, apakah negara mau bertanggung jawab atas kehidupan akhirat karena kita mati dalam rangka membelanya??
Pelajaran agama lain lagi. 1minggu hanya 2jam mata pelajaran. Mending kalau waktu yang sangat singkat itu sang penyampai materi(baca: guru/dosen) menyampaikan materinya secara kaffah,keseluruhan. Kalo engga?? Yang saya takutkan adalah ketika para guru, dosen yang terhormat melakukan berbagai penyimpangan dalam menyampaikan materi agama yang sungguh sangat sensitif dan memerlukan kapasitas ilmu yang benar. Tentang berbagai penyimpangan ini, akan saya bahas dalam catatan saya yang lain. Insya Allah.
***
Hal pokok berikutnya adalah hal yang membuat saya sangat iri pada zaman negeri ini dahulu. Satu zaman dimana Sunan Kalijaga, Sunan Gunungjati dan Maulana Malik Ibrahim lahir, tumbuh berkembang menyampaikan dan menyebarkan risalahNya ke berbagai pelosok wilayah. Atau di wilayah lain di zaman yang melahirkan Imam Syafii, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar al-Atsqolani. Mengapa saya iri?? Baiklah saya sampaikan rasa iri saya..
Mereka2 ini, nama-nama yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah, yang ikut dalam proses membangun sebuah peradaban yang gilang gemilang untuk seluruh umat manusia. Bukankah mereka menyebarkan ilmunya, berkeliling mengajar masyarakat tanpa dibayar??atau kalau pun mau hanya sekadar santunan negara.
Darimana mereka lahir?? Apakah dari pendidikan yang berharga ratusan dinar atau ratusan juta?? Atau dari hasil belajar di institusi yang untuk masuknya saja perlu membayar 1OOJuta rupiah??
Saya yakin tidak. Mereka lahir dari halaqah-halaqah gratis, pendidikan Qur'ani yang mencakup sosio dan sains mulai sejak usia dini.
Jika dipandang dan dipikir dengan otak materialistis, bukankah mereka adalah orang-orang yang tidak MENGHARGAI ilmu?? Mau-maunya menyebarkan ilmu tanpa dibayar. Rakyat kesultanan demak dan kekhalifahan Abbasiyah tentunya kurang menghargai ilmu karena tidak membayar. Mereka hanya mengandalkan baitul mal dan zakat.
Bukankah dari Demak lahir para wali macam Sunan Muria dan para pahlawan macam Adipati Unus&Fatahillah yang berhasil mengusir portugis??
Bukankah dari Baghdad tempat kekhalifahan Abbasiyah telah melahirkan ilmuwan, ulama, mujtahid sehebat Imam Muslim, Al-Khawarizmi, Ibnu Sinna yang ilmu mereka menjadi cahaya peradaban Islam selama 7OOtahun lebih??
Masa mereka bisa menjadi seperti itu belajarnya gratis sih...
Lalu bandingkanlah dengan sistem pendidikan berbayar sekarang yang teramat mahal. Sudah berapa kali sistem ini melahirkan ribuan koruptor yang merasa perlu balik modal karena sekolahnya sudah keluar banyak duit??
Sudah berapa banyak pekerja yang menghambakan dirinya di instansi asing yang kerjaannya mengeksploitasi kekayaan alam(baca: merusak bumi)??
Dan sudah berapa banyak ilmuwan, birokrat dan professional yang katanya sekolahnya tinggi-tinggi itu hanya berpikir duniawi dan bahkan atheis??
Tulisan ini memang hanyalah semacam kritisi terhadap dunia pendidikan kita; educritizm!!, tanpa solusi karena saya bukan pencari solusi yang tepat. Tapi jika kamu mau solusi yang benar, silahkan merendahkan diri di hadapanNya.. Silahkan kembalikan pada Al-Qur'an&Hadits dan perkuat keyakinan kita, kepada Allah SWT yang maha mengatur segalanya... bergeraklah dalam rel yang benar dalam bidang yang kamu jalani dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai landasannya.
Agar kelak satu hari nanti, di suatu pagi yang tenang kita dapat menatap langit jingga pertanda sebuah sinar kebangkitan yang datang, pertanda kobaran semangat para pejuang Allah..dan kita dengan takzim dapat berkata: ISYHADU BIANNA MUSLIMUN...!!
Senin, 07 Maret 2011
Hidup Yang (luar) Biasa
Album berwarna coklat tua yang tergeletak di step 2 lemari itu nampak berdebu. Perlahan saya bersihkan debunya untuk kemudian membukanya. Oh, ini foto-foto zaman dahulu. Ada 1 foto seorang lelaki tersenyum simpul dalam balutan baju putih khas meneer belanda. Di belakangnya, latar gedung tua dengan gaya art deco indische menambah kesan gagah lelaki itu. Di bagian bawah itu ada sebuah tulisan " Rd. Abdul Horiz , 1925 ".
" itu foto kakekmu.." suara ngebass ayah mengagetkan saya.
"beliau dipanggil yg maha kuasa tahun 1982, saat ayah masih kelas 2 stm. Jadi...kamu memang belum pernah bertemu dengannya secara langsung.." Ayah memulai pembicaraan, sementara saya masih terdiam menatap wajah tampan kakek yang mengalir deras pada cucunya ini. :)
" dulu.. kakekmu itu adalah pegawai karesidenan di batavia, seseorang yang cukup terpandang. Namun seiring invasi belanda di batavia yang terus berlangsung, kakekmu memilih berhenti dari posisinya untuk ikut berjuang memerdekakan diri. Meninggalkan kenyamanan untuk bergerak hengkangkan kolonialisme belanda.."
Saya mulai tertarik dengan cerita ini, kisah nyata yang tidak dibumbui macam2 hingga jauh dari cerita aslinya.
"hmm..terus, bagaimana lagi ceritanya?"
"dimasa agresi militer, kakekmu juga ikut longmarch bersama ribuan massa lain. Mereka berjalan kaki dari batavia yang mulai chaos menuju jogjakarta yang lebih aman untuk melindungi rakyat dari serangan musuh. Beliau memang orang yang rendah hati dan memiliki solidaritas tinggi, itu pula yang tercermin dalam sikapnya sehari-hari.."
Ayah berhenti menenun helaian kata. Sejenak berhenti, matanya menerawang seakan menyibak tirai masa lalu.
"terus apalagi..?" saya mencoba melumerkan kebekuan.
" wah..kamu ini. Kalau diceritakan semua sih, 4 gelas kopi sampai subuh juga gak bakal cukup nemenin ayah.."
Dia kemudian sedikit bercerita, bertahun-tahun sesudah masa agresi yang disusul zaman pemberontakan, kakek merintis karier sebagai sutradara film. Ada 1 foto yang mengabadikan kakek saat syuting di pulau bali, sedang mengarahkan artisnya dalam sebuah scene.
Tanpa foto hitam putih itu mungkin saya sedikit kurang percaya fakta itu. Ternyata tanpa sekolah sinematografi pun bisa menjadi sutradara rupanya. Saya jadi ingin bertemu kakek, meski itu tak mungkin.
Bercerita dan mendengarkan sebuah kisah di masa lalu seperti menyibak tirai yang berlapis. Semakin disibak semakin penasaran untuk terus dibuka satu persatu. Seperti ingin hanyut dan tenggelam dalam arusnya.
Saya jadi membayangkan bagaimana jika kakek saya dan kakek atau buyut kalian semua diberi kesempatan untuk kembali ke zaman sekarang. Hidup dan menyaksikan negeri ini, negeri yang dulu mereka perjuangkan dengan darah kini dijajah bangsanya sendiri. Mereka yang dulu memperjuangkan hak masyarakat yang dirampas inlander mungkin kini menangis melihat hak manusia itu kini dicerabut dari fitrahnya. Tak ada kesempatan dan hak mendapat pendidikan, kesehatan dan hak kolektif lainnya secara setara dan objektif.
Mereka yang dulu memperjuangkan papua, jawa dan daerah lain kini meratapi kenyataan bahwa komoditi SDA daerah itu dilokalisir penguasa dan pejabat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka yang memperjuangkan kemerdekaan dari kebodohan, hak manusia untuk eksis, harus mengurut ada melihat bangsanya dibodoh-bodohi, dihina dinakan tanpa henti, ditipu bangsa asing dan bahkan bangsanya sendiri yang melakukan korupsi menjijikan.
Hhh..
Kita hanya bisa menghela nafas menatap bangsa yang dulu jaya, rimba yang dulu perkasa.
Mencari kisah masa lalu dan kemudian melihat realitas masa kini, melulu mendatangkan kepedihan atas kejadian yang telah terjadi. Memang benar kata orang bijak, mengambil lilin lalu menyalakannya jauh lebik baik dari sekedar mengutuk kegelapan.
Entah berapa banyak bumi berrevolusi terhadap matahari. Dan sudah berapa banyak pula kehidupan merevolusi dirinya sendiri. Tangis dan tawa menjadi bagian kehidupan yang selalu berganti-ganti.
Dalam itu pula manusia lahir ke muka bumi menyandang misi yang dia dialogkan dalam kandungan ibunya ketika berumur 4 bulan, yaitu hidup. Hidup yang penuh eksistensi. Hidup yang penuh ibadah. Menorehkan tinta emas dalam kertas yang masih murni.
Dan bumi menjadi saksinya, bumi yang menjadi rekam jejak manusia memilih kehidupannya.
" hidup itu seperti lari estafet. Harus selalu ada yang memegang tongkat. Jika dulu kakek yang berjuang, lalu kemudian ayah..dan kini tongkat estafet itu ada di tangan kamu.."
"apa saya harus ikut berjuang mencari kebenaran, ikut memperjuangkan nasib umat&bangsa. Saya tidak yakin akan sanggup ayah.. Saya ingin hidup biasa saja..!!"
" memperjuangkan kebenaran itu tak selalu dengan demonstrasi, atau perang bahkan revolusi.. Bekerja mencari nafkah untuk anak istri, mendidik mereka secara benar juga memperjuangkan kebenaran. Teruslah belajar dan gunakan potensimu untuk kepentingan umat.."
"tapi...saya takut, ayah.."
"bersikaplah sebagai lelaki.. Hidup itu memang terjal. Isi hatimu dengan keyakinan. Dan beribadahlah, niatkan semua itu untuk beribadah. Maka Allah akan menutup kelemahan2 kita, dan yakinlah kita tidak selemah yang kita kira.."
lama saya terdiam.
" nak, kamu pernah dengar bahwa hidup yang paling indah itu adalah hidup yang berjalan diatas bara..?? Tak usah takut akan panasnya, jalani saja. Kamu akan mengetahui bahwa semua itu indah. Dan, bukan hanya ayah yang akan bangga ketika kau menapakkan kaki di atasnya, tapi juga Dia yang Maha indah.. Dia yang tiap hari kamu sembah..!!"
seperti menunggu kepingan totem berhenti berputar, saya diam dan termangu.
Hidup memang sebuah pilihan. Hidup biasa atau luar biasa.
Hidup biasa tanpa rekam jejak yang disisipi kesalahan&kebodohan.. Atau hidup luar biasa untuk berbuat benar. Meski untuk berbuat benar itu, kita harus berkorban. Kadang merelakan apa yang paling kita inginkan.
Mata saya berkaca-kaca menahan kristal air membuncah di pelupuk mata. Sampai malam larut saya masih memikirkannya. Sampai saya menanti di gerbang mimpi. Untuk kemudian membisikkan kata-kata padaNya. Untuk menerbangkan kupu-kupu doa beruntai harapan ke singgasana Arasy yang agung, agar Dia yang maha indah itu memberikan keberanian. Keberanian untuk menjalani kehidupan. Amin.
kiri, kanan dan jalan lurus
suatu hari, di sebuah forum tempat manusia berkumpul dan merenung mencari sesuap hikmah..
"kamu kiri ya? sosialis dong!"
"kamu kanan ya..??wah..liberal! kapitalis ah!!"
kiri?kanan? seperti rute ojeg saja.
di lain kesempatan..
" eh elu islam moderat ya!!"
"nah eluu, islam fundamental..!!"
moderat dan fundamental tu campuran bahan buat bikin bom ya..??
Itulah komentar atau lebih tepatnya 'tuduhan' yang sempat rekan2 saya alami ketika mereka mengutarakan pendapatnya. dikotak-kotakkan. Kesannya menjadi labelisasi. Dan saya kurang suka dengan pelabelan macam itu.
Saya jadi teringat ucapan imam ali bin abi thalib ; "Kanan dan kiri adalah jalan yang sesat, sedangkan jalan yang ada di tengah adalah jalan yang lurus dan benar"
apakah kiri dan kanan diatas adalah yang dimaksud imam ali..hmm..saya tidak mau berspekulasi.
***
Kiri dan kanan. Dewasa ini manusia sepertinya dihadapkan pada 2 pilihan saja, tidak ada yg lain, termasuk buat kita umat islam. Jika bukan kapitalis ya sosialis.
Bagi orang2 yang apatis, mementingkan kenikmatan duniawi mereka memilih liberal dengan kapitalis sebagai ideologi hidup. Asal diri ini senang, merajalela menumpuk harta. Semua hanya dinilai dari materi.
Dalam ekonomi kapitalis, harga adalah satu2nya pendukung. Mengapa? Yang menyebabkan seseorang bekerja keras adalah 'penghargaan' kepadanya. Karenanya, orang yg memanfaatkan produk dan jasa harus rela membayar mahal.
Dunia pendidikan diswastanisasika. Para alumninya rela membayar mahal walaupun alumninya kelak menjadi seorang profesional, birokrat, pengangguran atau malah menjadi koruptor dan pembunuh.
Begitu pula dunia kesehatan. Hanya segelintir orang yg bisa menikmati fasilitas RS, klinik, dokter dengan baik karena biayanya teramat mahal. Orang miskin hanya bisa menjerit. Maklum lah, fasilitas&alat2 kesehatan itu mahal. Jadi kalo bayarnya murah atau gratis, kapan break even pointnya..??
Sementara itu di sisi lain ada orang2 yg memiliki kepekaan&solidaritas tinggi. Membutuhkan perubahan akan keadaan, bosan dengan stagnansi yang banal. Mereka menginginkan revolusi karena prihatin melihat pendidikan semakin mahal, angka pengangguran melambung tinggi. Hidup sehat hanya mimpi bagi kaum proletar.
Lihatlah. Diatas tanah hasil penggusuran rumah kumuh dibangun mall tempat kaum borjuis menghamburkan uang tanpa peduli si miskin yg putus sekolah hanya menatap mereka dengan mata hampa dibalik jendela. Di tempat lain seorang pencuri ayam dibakar massa, sementara koruptor dan mafia pajak bebas berlibur kemana-mana.
Hukum laksana pisau yg tajamnya hanya ke bawah. Begitu tajam saat mengiris-iris si miskin, tapi tiba2 mendadak tumpul saat menghadap orang terhormat dan berduit.
Dunia seolah tanpa keadilan. Mereka pun memimpikan dunia tanpa kelas. Inkuisisi jalanan terjadi, revolusi sampai mati. Mengganyang kapitalis untuk menggantinya dengan sosialis yg dinilai lebih beradab dan merata.
Tapi mari sejenak kita tengok dengan perspektif lain. Bukankah mereka, kaum liberal yg kapitalis dan revolusioner yg sosialis itu telah menerima islam sebagai keyakinan mereka? Bukankah mereka telah bersaksi bahwa Allah, tuhan maha esa yg mereka percayai itu ada??
Tak mustahil mereka sangat yakin dan tidak meragukan kebenaran islam.
Akan tetapi, banyak dari kita semua tidak menemukan solusi atas semua permasalahan. Itu tadi, karena selama ini kita dan mereka hanya mengenal 2 pilihan: kapitalis dan sosialis untuk menyelesaikan pelbagai masalah tsb. Kita ini hanya melihat kiri dan kanan, padahal ada jalan yg lurus.
Boleh jadi kita ini tidak mendapat pemahaman tentang islam sesungguhnya. Kita hanya mengenal islam yg parsial, islam yg telah mengalami penyunatan sana sini.
Sehingga kita semua mengenal islam hanya sebatas ritual belaka. Solat, zakat, puasa, naik haji tanpa mengetahui esensi dibalik itu semua. Tanpa pernah mendapat pemahaman bagaimana islam mengatur perekonomian, pemerintahan, pendidikan, hukum dsb. Tanpa juga tahu islam yg mengatur ranah politik. Hukum Allah yg mengatur, bukan hanya mengganjar setiap kejahatan tapi juga mencegah agar kejahatan tak terjadi.
Kepingan2 puzzle yg hilang inilah yg membuat islam terkotak-kotakkan. Jadilah kita mengenal 'berbagai macam islam' . Umat dan ulama muslim yg compromise dengan segala kebijakan pemerintah disebutnya moderat. Sedangkan yg menentang kemunkaran dilabeli islam garis keras. Yang ritualnya tidak jalan dinamai islam ktp. Apalagi kini muncul islam liberal. Kelompok yg begitu agresif mengkritisi al qur'an tapi mendadak manut disodori pemikiran barat.
Semua pelabelan itu tentu sangat mengganggu. Islam dikotak2an, padahal islam itu jelas dan satu, satu keyakinan. Berpijak pada alquran dan hadits.
Bagaimana mungkin dikatakan islam jika habis2an mengkritisi alquran tanpa pernah mengkajinya?
Bagaimana bisa dikatakan islam jika memuja2, bahkan mencium telapak kakinya kiai yg berkata bahwa alquran adalah kitab paling porno? Naudzubillah.
Kita jadi begini karena menjauh atau dijauhkan dari pedoman hidup kita, alquran. Sehingga kita tidak memahami islam seutuhnya. Bukankah dlm an-nisa 59, allah berfirman:
" hai orang2 yg beriman, taatilah Allah, RasulNya dan taatilah pemimpin (ulil amri) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat ttg sesuatu, maka kembalikanlah pada Allah (alquran) dan rasul(sunahnya), jika kamu benar2 beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya"
saat saya mengetik tulisan ini, adzan isya berkumandang. 10 menit berlalu, saya masih asyik di hadapan monitor.
Teman di sebelah saya mengingatkan:
"wah..katanya pengen memahami islam yg seutuhnya, kok solatnya masih ditunda-tunda sih..!!"
ah benar juga dia..
untuk memulai sesuatu yg benar, memang harus diawali dengan benar. Harus diawali dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga..
Jumat, 25 Februari 2011
perenungan (tentang ahmadiyah)
Saya lagi merenung. Jongkok tercenung di depan ember yang penuh terisi air. Sedangkan di sebelah kiri saya ada bak berisi air dengan volume yg lebih besar daripada ember tadi. Diatasnya ada keran menitikkan air setetes demi setetes. Suara tetesan airnya beriringan dengan suara jangkrik yang mengalun indah serempak menyuarakan revolusi.
Di perenungan ini, saya jadi teringat ahmadiyah. Ahmadiyah yang mengaku islam.
Sebelum kita menjudge, saya mencoba fair untuk bersikap. Marilah kita mulai dengan "sang nabi" ; mirza ghulam ahmad. Sang nabi sekaligus pendiri ahmadiyah. Jika memang dia mengaku islam, ada satu hal yang sangat kontradiktif antara islam dengan keyakinannya. Karena Islam sangatlah jelas dipimpin oleh Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, ini membuat saya heran. Namun sebelum menarik kesimpulan, mari buka sejarah sejenak. Sejarah yang mungkin diperam para pemenang sejarah.
Mirza Ghulam Ahmad yang lahir dalam keluarga Muslim di suatu desa di India Utara yaitu Qadian tahun 1839M menceritakan bahwa ayahnya bernama Atha Murtadha berkebangsaan mongol. (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, kary. Mirza Ghulam Ahmad).
Namun anehnya, ia juga mengatakan “Keluarga dari Mongol, tetapi berdasarkan firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti berita yang datang dari Allah Ta’ala.” (Hasyiah Al-Arba’in, no.2 hal.17, karya Mirza Ghulam Ahmad).
Dia juga pernah berkata, “Aku pernah membaca beberapa tulisan ayahku dan kakekku, kalau mereka berasal dari suku mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku bahwa aku dari bangsaPersia.” (Dhamimah Haqiqatil Wahyi, hal.77, kary. Mirza Ghulam Ahmad). Yang anehnya lagi, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan Fathimah bin Muhammad.
Asal-usulnya memang sedikit absurd. Tapi kita tinggalkan saja dia.
Anggap saja dia benar nabi. Hal pertama yg seharusnya dia lakukan adalah dia tidak merujuk pada AL quran, karena sudah jelas alquran adalah kitab umat islam dan diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad seorang.
Sedangkan dia masih merujuk pada beberapa ayat di alquran, itupun parsial-sebagian- saja. Tidak utuh dan menghilangkan substansi yang terkandung dlm ayatnya. Lha ini bagaimana, katanya nabi baru.. tapi masih merujuk alquran?? Bukankah setiap nabi dan rasul itu membawa wahyu baru dan kitab baru?
ini satu contoh dia mengotak-atik quran dan menggabungkannya ke dalam kitab suci versinya -Braheene Ahmadiyyah-:
” ‘Inna Anzalnaahu Qariiban min alQadian wa bil Haq anzalnaahu.
(Ing.) No doubt we have sent him (Mirza) near Qadian and with truth we have sent him’;
(Ind.) Telah jelas bahwa kami telah mengirimkannya (Mirza) dekat Qadian dan dengan benar kami telah mengirimkannya ‘; . . .
pernyataan wahyu yang telah diterbitkan dalam Braheene Ahmadiyyah ini telah jelas dan keras menyatakan bahwa nama Qadian telah disebut secara jelas dalam Quran atau Hadits sebagai pernyataan kenabian.”
(catatan: Coba periksa ‘tenses’ yang sengaja dalam Quran dibuat past tense–dalam bahasa arab disebut madhi yang berarti suatu kejadian yang sudah lewat atau lampau pada waktu al Quran disampaikan/diwahyukan—Seandainya akar kata nazala tersebut dibuat untuk perkiraan, masa datang, atau masa kini, Allah akan mengatakan “Unazzilu” sebagai ganti “Anzalna”.)
Allah mewahyukan Qur’an dalam bahasa arab dengan akurasi yang luar biasa, seandainya ditulis dalam bahasa apapun, maka al Quran akan menjadi suatu maha karya yang luar biasa dalam hal akurasi maupun isinya–seperti halnya yang telah ditulis dalam bahasa Arab.
saya sendiri heran kenapa mirza mendapat wahyu dalam bahasa arab. Biasanya sih , seorang nabi dan rasul mendapat wahyu itu sesuai bahasa ibunya. Katakanlah Muhammad mendapat wahyu bhs arab. Yesus (isa) mendapat wahyu dlm bahasa ibrani dll. Kalo dia nabi harusnya ya dapet wahyu dalam bahasa urdu, bahasa ibu dia.
Jika mirza konsisten dengan kenabiannya dan umat2nya konsisten menjadikan dia sebagai nabi, maka silakan buat kitab suci baru, nama agama baru, tampat ibadah baru dan kelengkapan lainnya yg serba baru. Dan please, bikin aturan hidudp sendiri sesuai apa yg telah "tuhan" wahyukan padanya. Rasanya cukup fair bukan..?? Daripada mengaku islam.
ohya satu lagi, dan ini -saya rasa- bisa menguak tabir misteri siapa dia sebenarnya.
Mirza hidup dalam kungkungan imperialisme inggris di india selama puluhan tahun. Seorang pemimpin, apalagi pemimpin umat. Wajarlah kiranya jika dia melakukan pemberontakan atas kedzaliman yang terjadi, membebaskan umat dari cengkeraman imperialis yang mengkebiri HAM. Bagaimana dengan Mirza??
Sementara Penjajah Inggris dibuat pusing di India karena adanya semangat Jihad di kalangan Muslim,, dalam anjuran dan dakwahnya, Mirza Ghulam Ahmad justru menulis buku-buku dan pamflet-pamflet yang membatalkan/MENCABUT JIHAD serta menganjurkan KESETIAAN KEPADA PENJAJAH INGGRIS SEBAGAI RUKUN IMAN. Disinilah momentum Mirza Ghulam mendirikan Gerakan AHMADIYYAH tahun 1889 dan menamakan pengikutnya sebagai AHMADI MUSLIM. Ia memberi label kepada umat yang tidak menerimanya dan tidak menerima kenabiannya sebagai haram jadah(bastards).
Coba simak 1 pernyataan Mirza dalam sbuah bukunya:
"Sejak kecil sampai sekarang setelah berumur 65 tahun, saya telah melakukan dengan pena dan lidah saya, tugas-tugas penting dalam mengubah hati umat Muslim kedalam cinta kasih & niat baik serta simpati terhadap Pemerintah Inggris dan melenyapkan ide dan semangat Jihad dari hati orang-orang (Islam) bodoh itu. " (Kitab-ul-Bariyah, Roohani Khazain vol 13 p.350)
Bukankah berbeda dengan Ibrahim yg menghancurkan berhala karena akal logisnya yg merasa tidak mungkin patung menjadi tuhan?? Atau Isa yg juga menentang imperialisme Romawi terhadap bangsa yahudi??
dari sinilah muncul spekulasi terbesar bahwa dia menjual keimanannya demi mendapatkan keuntungan harta. Di satu sisi muncul juga dugaan dia budak inggris dalam upaya memecah belah umat islam yang nampaknya saat ini telah berhasil.
Dan saya punya 1 pertanyaan : dimanakah lokasi pusat ahmadiyah yang juga sebagai tempat kongres tahunan ahmadiyah..??
Yuph! anda benar!! jawabannya absolutely: INGGRIS.
Tapi sekali lagi, ini hanya spekulasi (kecuali kantor pusat ahmadiyah yang jelas fakta, silakan cek di ustad google).
Jika memang ingin mengetahui kebenaran sejatinya, perlu mesin waktu untuk mengeceknya. :)
***
Sesungguhnya para Penguasa itu, dan musuh2 Allah SWT lainnya sangat takut akan KEBANGKITAN ISLAM, serta SEMANGAT JIHAD dari kaum Muslimin. Mereka tahu bahwa dengan adanya MUSLIM YANG MEMELUK QADIANI/ AHMADI, berarti berkurang lagi satu umat Muslim. Tiap orang Ahmadi harus percaya bahwa JIHAD ADALAH HARAM. Dengan demikian Gerakan Ahmadiyyah Movement adalah agen Anti Kekuatan Islam dalam rangka membuang keimanan ummat atas nama Islam.
Tapi saya pikir yg terpenting adalah meningkatkan kualitas keimanan kita, mempercayai sedalam-dalamnya bahwa islam yang kita pilih, yang telah Muhammad sampaikan pada kita via Alquran dan al hadits adalah sebenar-benarnya rohmatan lil alamin. Orang lain? ya terserah. Lakum diinukum waliyaddin; untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.
Tapi kalo ahmadiyah ngaku islam ya lain lagi ceritanya..ya gak?? :)
semoga Allah SWT menjaga iman setiap muslim dari godaan2 kejahatan. amin.

