RSS Feed
This is a mood message, you can edit this message by editing file message.php, or you can also add here some advertisement.

Sabtu, 28 Agustus 2010

sore hari...

Langit berhiaskan lembayung merah sedikit memancarkan aurora. Ia hadir ditengah dinginnya angin kering yg menusuk tulang. Akan patuhnya pada sunatullah, mentari sebentar lagi bersubstitusi dengan bulan..

Tumbangnya mentari di garis barat langit menemani langkah kaki saya senja itu. Langkah ini menyeret-nyeret sendal jepit yg saya pakai, menginjak-injak tumpukan aspal berkualitas rendah yg bercampur kerikil menjadi jalan berlubang. Kerikil-kerikil tajam lalu melukai badan sendal swallow ini, ujung2nya menembus lapisan karet hingga level terahir, dan bagian tertajamnya segera menyentuh pori luar kaki, sedikit menggores dengan tekanan&gaya gesek yg tinggi, lalu..

" aww!! "

gesekan kaki&kerikil dgn cepat mengimpuls rasa pedih ke cerebreum otak saya. Dan dengan segera otak sbagai decision maker merespon memerintahkan mulut menjerit&mata berair..

Kerikil tajam yg tak sengaja saya injak ini bikin saya kesakitan skaligus memudarkan sgala lamunan..dan.. uhum, fokus saya sudah kembali.

***

Saya duduk sebentar. Semoga dgn duduk, rasa sakit cepat berlalu.

Sambil duduk di pinggiran jalan, saya ambil hp di saku. Saya usap permukaan layar agar bersih dari debu. Dan saya mulai berkencan dengan deretan huruf, meninju-ninju tuts keypad mengatur robot kecil ini biar dia memunculkan huruf hasil timpukan jari saya di keypad. Mencoba bikin catatan di hp, tp ah...tak ada ide kali ini.

Maka dgn rasa kasih sayang pada hp yg nyaris 3 tahun menemani ini, saya kembalikan ia ke saku agar dia bisa beristirahat.

Lalu saya pindahkan posisi duduk dari pinggiran jalan menuju zona pekarangan sebuah mesjid yg tak jauh letaknya, tempat saya masih bisa melihat berbagai bahasa&realita manusia.

Huuhhh...

Dengan mata yg mulai tak fokus, saya menatap sebuah pemandangan yg "unik" dan "lucu".

Ya, lucu rasanya melihat berbagai jenis kendaraan berlomba-lomba di jalan sempit, bukan di sirkuit.

Berlomba mencapai garis finish masing2, entah apa itu. Seolah mereka melisankan bahasa batinnya. Siapa yg paling cepat, dia yg menang.

Ah..naturalitas hidup telah berubah menjadi kompetisi. Kompetisi menjadikan esensi hidup sbagai komoditi.

Saya masih bisa melihat wajah mereka yg kusam tak memancarkan cahaya. Kening mengkerut, mata menyipit seakan terhimpit beban ribuan joule. Wajah2 sepulang dari kantor, tempat kerja, tempat mereka mencari uang. (apa uang mereka hilang di tempat kerja ya?)

Kali ini mereka pulang sebagai seorang suami bagi istri, ayah bagi anak dan anak bagi orangtua.

Setelah seharian menjadi komoditi korporasi yg membuat waktu mereka tereksploitasi hingga tiada waktu introspeksi&berbenah diri. Padahal ini bulan suci.

Sekali lagi, kita tunduk pada fantasi massif industrialisasi. Sambil mengisi ruang kosong di hati dengan mimpi. Mimpi yg lama2 menjadi ilusi dalam spektrum kehidupan yg telah termanipulasi semiotika. Hingga suatu hari kehilangan jati diri....

***

saya sedih..saya hanya bisa diam dan tertegun, tak ada yg dapat dilakukan.

Bahkan rasa takut mulai menjalari aliran darah dan membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana jika suatu hari nanti saya terseret ilusi keji industri yg menghancurkan bumi..

"a..a.. Buku dulu a.. Udah adzan.. :) "

lelaki paruh baya yg tak saya kenal itu membangunkan saya dari lamunan.

Senyumnya yg sederhana mendamaikan hati. Dengan tangannya yg agak keras, ia menggenggamkan saya segelas teh hangat&kolak pisang.

Ah, rupa-rupanya saya terinsepsi halusinasi. Ternyata, masih banyak manusia yg berhati mulia. Manusia yg sebenar2nya manusia..mahluk yg diberi kecerdasan intelektual&performatif utk mengenal esensi hidup sbagai ibadah..

Dalam alunan ringtone terlaris di bulan ini: adzan maghrib.. Tak peduli berbeda ras dan bahasa bahkan tak saling mengenal, semuanya membaur jadi satu dalam keindahan 1akidah. Dalam ukhuwah ini, saya merasakan kedamaian sejati yg tak muncul dalam ilusi..

Dan lalu bulan telah nampak memberi romantisme menjelang malam. Kami semua berlalu, bersiap menemui sang Maha dalam segala kebersahajaan...

0 komentar:

Posting Komentar