Untuk dinyatakan sebagai pangan organik, cara bertani harus memenuhi persyaratan sistem pertanian organik, bukan semata-mata tidak menggunakan pestisida, tetapi secara keseluruhan sistem pertaniannya menerapkan prinsip organik. Ada 17 prinsip, antara lain memelihara ekosistem untuk mencapai produktivitas yang berkelanjutan, mengendalikan tanaman pengganggu/gulma, hama, dan penyakit dengan cara-cara alami (misalnya daur ulang residu tanaman dan ternak, menggilir dan menyeleksi tanaman, pengadaan pengairan, penggunaan bahan hayati dan lain-lain), sehingga mampu mempertahankan keseimbangan dan keselarasan alam, demikian penjelasan Ahmad Sulaeman Ph D, Direktur Indonesian Sustainable Agricultural Initiatives (ISAI).
Sungguh suatu hal yang ajaib menemukan bahwa harga dasar produk organic dari perkebunan yang boleh dibilang salah satu pelopor pertanian organic di Indonesia ternyata hanya 10 sampai 20 % dari harga yang kita temui di pasar swalayan, atau hypermarket di Jakarta. Padahal jika berdasar perhitungan cara bertani organik, biaya produksi justru rendah karena minim pemakaian pupuk dan obat-obatan. Pada tahun-tahun awal memang terjadi shock produksi, karena pemakaian pupuk dan obat-obatan dihentikan. Pengolahan tanah diubah. Namun berdasar kajian, setelah lewat 3 tahun hasil pertanian organik meningkat dan setelah melewati tahun ketujuh, produktivitasnya justru melebihi cara pertanian konvensional.
Penyebab harga yang relatif mahal justru disebabkan faktor propaganda atau promosi. Dalam masyarakat kita saat ini sudah tumbuh kesadaran bahwa mengkonsumsi produk organik yang dianggap minim tingkat residu zat kimia sintetis ini mampu menyehatkan. Sebagai konsekuensinya, logis saja jika membeli produk bernilai tambah membutuhkan additional cost alias lebih mahal. Produk Organik juga tidak harus selalu jelek penampilannya, misalnya berlubang. Dengan pengawasan pengelolaan yang intensif, bisa saja dihasilkan sayur-buah organik yang mulus. Di tempat yang juga menjadi kawah candra dimuka bagi siapa pun yang ingin menjadi petani organic Pastor Agatho menjelaskan Visi Yayasan Bina Sarana Bhakti (BSB) yang berusaha memahami evolusi alam dan kenyataan pembangunan manusia. Dua karya tersebut ternyata berbeda, dimana menurut Pencipta semua ada untuk melayani yang lain, sementara manusia mengira semua itu ada untuk dipakai sendiri. Alam bersifat organis, manusia bersifat egois. BSB berkeyakinan sikap organis itulah yang menjadi dasar kemajuan. Di dalam alam segala sesuatunya menghasilkan lebih daripada yang dibutuhkannya sendiri, lebih banyak menguntungkan yang lain daripada diri sendiri. Sementara Misi dituangkan dalam nama BSB, yaitu ingin membina (menyiapkan, mengembangkan) berbagai sarana (metode, alat) agar setiap manusia bisa makin berbakti dan melayani sesama, alam, dan Tuhan. Yang penting saat berbelanja, pertama-tama baca label lalu berpikirlah logis. Tanyakan pada diri sendiri sebelum makan sesuatu, apa manfaatnya bagi tubuh kita. Kalau memang tidak akan mendapatkan apa-apa, lupakan saja. Rasa itu Cuma ada di sejengkal bagian tubuh (dari ujung lidah sampai leher) sementara kalau tidak bermanfaat akan menjalar ke seluruh tubuh. Liver, jantung, atau bagian lain yang biasanya menderita karena kita mementingkan rasa yang enak daripada kesehatan keseluruhan.


0 komentar:
Posting Komentar