suatu hari, di sebuah forum tempat manusia berkumpul dan merenung mencari sesuap hikmah..
"kamu kiri ya? sosialis dong!"
"kamu kanan ya..??wah..liberal! kapitalis ah!!"
kiri?kanan? seperti rute ojeg saja.
di lain kesempatan..
" eh elu islam moderat ya!!"
"nah eluu, islam fundamental..!!"
moderat dan fundamental tu campuran bahan buat bikin bom ya..??
Itulah komentar atau lebih tepatnya 'tuduhan' yang sempat rekan2 saya alami ketika mereka mengutarakan pendapatnya. dikotak-kotakkan. Kesannya menjadi labelisasi. Dan saya kurang suka dengan pelabelan macam itu.
Saya jadi teringat ucapan imam ali bin abi thalib ; "Kanan dan kiri adalah jalan yang sesat, sedangkan jalan yang ada di tengah adalah jalan yang lurus dan benar"
apakah kiri dan kanan diatas adalah yang dimaksud imam ali..hmm..saya tidak mau berspekulasi.
***
Kiri dan kanan. Dewasa ini manusia sepertinya dihadapkan pada 2 pilihan saja, tidak ada yg lain, termasuk buat kita umat islam. Jika bukan kapitalis ya sosialis.
Bagi orang2 yang apatis, mementingkan kenikmatan duniawi mereka memilih liberal dengan kapitalis sebagai ideologi hidup. Asal diri ini senang, merajalela menumpuk harta. Semua hanya dinilai dari materi.
Dalam ekonomi kapitalis, harga adalah satu2nya pendukung. Mengapa? Yang menyebabkan seseorang bekerja keras adalah 'penghargaan' kepadanya. Karenanya, orang yg memanfaatkan produk dan jasa harus rela membayar mahal.
Dunia pendidikan diswastanisasika. Para alumninya rela membayar mahal walaupun alumninya kelak menjadi seorang profesional, birokrat, pengangguran atau malah menjadi koruptor dan pembunuh.
Begitu pula dunia kesehatan. Hanya segelintir orang yg bisa menikmati fasilitas RS, klinik, dokter dengan baik karena biayanya teramat mahal. Orang miskin hanya bisa menjerit. Maklum lah, fasilitas&alat2 kesehatan itu mahal. Jadi kalo bayarnya murah atau gratis, kapan break even pointnya..??
Sementara itu di sisi lain ada orang2 yg memiliki kepekaan&solidaritas tinggi. Membutuhkan perubahan akan keadaan, bosan dengan stagnansi yang banal. Mereka menginginkan revolusi karena prihatin melihat pendidikan semakin mahal, angka pengangguran melambung tinggi. Hidup sehat hanya mimpi bagi kaum proletar.
Lihatlah. Diatas tanah hasil penggusuran rumah kumuh dibangun mall tempat kaum borjuis menghamburkan uang tanpa peduli si miskin yg putus sekolah hanya menatap mereka dengan mata hampa dibalik jendela. Di tempat lain seorang pencuri ayam dibakar massa, sementara koruptor dan mafia pajak bebas berlibur kemana-mana.
Hukum laksana pisau yg tajamnya hanya ke bawah. Begitu tajam saat mengiris-iris si miskin, tapi tiba2 mendadak tumpul saat menghadap orang terhormat dan berduit.
Dunia seolah tanpa keadilan. Mereka pun memimpikan dunia tanpa kelas. Inkuisisi jalanan terjadi, revolusi sampai mati. Mengganyang kapitalis untuk menggantinya dengan sosialis yg dinilai lebih beradab dan merata.
Tapi mari sejenak kita tengok dengan perspektif lain. Bukankah mereka, kaum liberal yg kapitalis dan revolusioner yg sosialis itu telah menerima islam sebagai keyakinan mereka? Bukankah mereka telah bersaksi bahwa Allah, tuhan maha esa yg mereka percayai itu ada??
Tak mustahil mereka sangat yakin dan tidak meragukan kebenaran islam.
Akan tetapi, banyak dari kita semua tidak menemukan solusi atas semua permasalahan. Itu tadi, karena selama ini kita dan mereka hanya mengenal 2 pilihan: kapitalis dan sosialis untuk menyelesaikan pelbagai masalah tsb. Kita ini hanya melihat kiri dan kanan, padahal ada jalan yg lurus.
Boleh jadi kita ini tidak mendapat pemahaman tentang islam sesungguhnya. Kita hanya mengenal islam yg parsial, islam yg telah mengalami penyunatan sana sini.
Sehingga kita semua mengenal islam hanya sebatas ritual belaka. Solat, zakat, puasa, naik haji tanpa mengetahui esensi dibalik itu semua. Tanpa pernah mendapat pemahaman bagaimana islam mengatur perekonomian, pemerintahan, pendidikan, hukum dsb. Tanpa juga tahu islam yg mengatur ranah politik. Hukum Allah yg mengatur, bukan hanya mengganjar setiap kejahatan tapi juga mencegah agar kejahatan tak terjadi.
Kepingan2 puzzle yg hilang inilah yg membuat islam terkotak-kotakkan. Jadilah kita mengenal 'berbagai macam islam' . Umat dan ulama muslim yg compromise dengan segala kebijakan pemerintah disebutnya moderat. Sedangkan yg menentang kemunkaran dilabeli islam garis keras. Yang ritualnya tidak jalan dinamai islam ktp. Apalagi kini muncul islam liberal. Kelompok yg begitu agresif mengkritisi al qur'an tapi mendadak manut disodori pemikiran barat.
Semua pelabelan itu tentu sangat mengganggu. Islam dikotak2an, padahal islam itu jelas dan satu, satu keyakinan. Berpijak pada alquran dan hadits.
Bagaimana mungkin dikatakan islam jika habis2an mengkritisi alquran tanpa pernah mengkajinya?
Bagaimana bisa dikatakan islam jika memuja2, bahkan mencium telapak kakinya kiai yg berkata bahwa alquran adalah kitab paling porno? Naudzubillah.
Kita jadi begini karena menjauh atau dijauhkan dari pedoman hidup kita, alquran. Sehingga kita tidak memahami islam seutuhnya. Bukankah dlm an-nisa 59, allah berfirman:
" hai orang2 yg beriman, taatilah Allah, RasulNya dan taatilah pemimpin (ulil amri) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat ttg sesuatu, maka kembalikanlah pada Allah (alquran) dan rasul(sunahnya), jika kamu benar2 beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya"
saat saya mengetik tulisan ini, adzan isya berkumandang. 10 menit berlalu, saya masih asyik di hadapan monitor.
Teman di sebelah saya mengingatkan:
"wah..katanya pengen memahami islam yg seutuhnya, kok solatnya masih ditunda-tunda sih..!!"
ah benar juga dia..
untuk memulai sesuatu yg benar, memang harus diawali dengan benar. Harus diawali dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga..


0 komentar:
Posting Komentar