RSS Feed
This is a mood message, you can edit this message by editing file message.php, or you can also add here some advertisement.

Minggu, 15 Mei 2011

Educrtizion

Waktu begitu cepat berlalu, melesat meminggirkan manusia yang menghalanginya. Seperti pesawat indonesia yang lepas landas melakukan aksi akrobatik pada peringatan hari kemerdekaannya (meski entah kapan mereka merdeka?) lalu kemudian menukik tersungkur ke tanah. Waktu yang semakin berpacu, tanpa terasa tahun2011 sudah memasuki bulan Mei. Bulan kelahiran saya yang identik dengan bulan pendidikan. Karena apa? Apalagi kalau bukan karena diklaimnya tanggal 2Mei sebagai hari pendidikan nasional.



Berbicara tentang dunia pendidikan. Jika saya dan kamu mau objektif melihat dunia pendidikan diwilayah indonesia ini, nampak jelas bahwa edukasi kita berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Boleh sepakat atau tidak, ini hanya pendapat saya pribadi. Pendidikan adalah salahsatu akar kunci berkembangnya umat yang sedang dalam keadaan terpuruk sedemikian rupa. Maka, ketika komponen2 dalam dunia ini terkonsepsi dalam sebuah "sistem" yang mungkin diciptakan hanya untuk kepentingan sebagian golongan, apa yang dapat diharapkan untuk mengentaskan kebodohan (kejahiliyahan) ??



Hal pertama yang saya kritisi adalah materi pendidikan. Kenapa? Ini adalah bentuk ketidaksetujuan saya terhadap materi yang semakin sekuler. Materi yang saya maksud tentu terkait dengan ruang dan waktu yaitu "materinya sendiri", kurikulum, dan waktu yang mengekang potensi. Hanya terfokus pada kehidupan duniawi yang menjauhkan kita dari kehidupan ukhrawi-akhirat- yang justru kekal. Pelajaran2 sains malah menitikberatkan pada profesi berbayar sebagai tujuan akhir,bukannya menjadikan sains sebagai ibadah.

Pelajaran kewarganegaraan menempatkan nasionalisme,membela negara,bekerja untuk negeri sebagai prioritas utama manusia, bukan penghambaan pada Dia yg telah menciptakan manusia. Sedangkan dalam islam sudah jelas bahwa nasionalisme adalah ashobiyah. Dan tidak masuk surga orang-orang yang mati dalam ashobiyah. Memangnya kalau sudah mati, apakah negara mau bertanggung jawab atas kehidupan akhirat karena kita mati dalam rangka membelanya??

Pelajaran agama lain lagi. 1minggu hanya 2jam mata pelajaran. Mending kalau waktu yang sangat singkat itu sang penyampai materi(baca: guru/dosen) menyampaikan materinya secara kaffah,keseluruhan. Kalo engga?? Yang saya takutkan adalah ketika para guru, dosen yang terhormat melakukan berbagai penyimpangan dalam menyampaikan materi agama yang sungguh sangat sensitif dan memerlukan kapasitas ilmu yang benar. Tentang berbagai penyimpangan ini, akan saya bahas dalam catatan saya yang lain. Insya Allah.



***





Hal pokok berikutnya adalah hal yang membuat saya sangat iri pada zaman negeri ini dahulu. Satu zaman dimana Sunan Kalijaga, Sunan Gunungjati dan Maulana Malik Ibrahim lahir, tumbuh berkembang menyampaikan dan menyebarkan risalahNya ke berbagai pelosok wilayah. Atau di wilayah lain di zaman yang melahirkan Imam Syafii, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar al-Atsqolani. Mengapa saya iri?? Baiklah saya sampaikan rasa iri saya..



Mereka2 ini, nama-nama yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah, yang ikut dalam proses membangun sebuah peradaban yang gilang gemilang untuk seluruh umat manusia. Bukankah mereka menyebarkan ilmunya, berkeliling mengajar masyarakat tanpa dibayar??atau kalau pun mau hanya sekadar santunan negara.

Darimana mereka lahir?? Apakah dari pendidikan yang berharga ratusan dinar atau ratusan juta?? Atau dari hasil belajar di institusi yang untuk masuknya saja perlu membayar 1OOJuta rupiah??

Saya yakin tidak. Mereka lahir dari halaqah-halaqah gratis, pendidikan Qur'ani yang mencakup sosio dan sains mulai sejak usia dini.



Jika dipandang dan dipikir dengan otak materialistis, bukankah mereka adalah orang-orang yang tidak MENGHARGAI ilmu?? Mau-maunya menyebarkan ilmu tanpa dibayar. Rakyat kesultanan demak dan kekhalifahan Abbasiyah tentunya kurang menghargai ilmu karena tidak membayar. Mereka hanya mengandalkan baitul mal dan zakat.

Bukankah dari Demak lahir para wali macam Sunan Muria dan para pahlawan macam Adipati Unus&Fatahillah yang berhasil mengusir portugis??

Bukankah dari Baghdad tempat kekhalifahan Abbasiyah telah melahirkan ilmuwan, ulama, mujtahid sehebat Imam Muslim, Al-Khawarizmi, Ibnu Sinna yang ilmu mereka menjadi cahaya peradaban Islam selama 7OOtahun lebih??

Masa mereka bisa menjadi seperti itu belajarnya gratis sih...

Lalu bandingkanlah dengan sistem pendidikan berbayar sekarang yang teramat mahal. Sudah berapa kali sistem ini melahirkan ribuan koruptor yang merasa perlu balik modal karena sekolahnya sudah keluar banyak duit??

Sudah berapa banyak pekerja yang menghambakan dirinya di instansi asing yang kerjaannya mengeksploitasi kekayaan alam(baca: merusak bumi)??

Dan sudah berapa banyak ilmuwan, birokrat dan professional yang katanya sekolahnya tinggi-tinggi itu hanya berpikir duniawi dan bahkan atheis??



Tulisan ini memang hanyalah semacam kritisi terhadap dunia pendidikan kita; educritizm!!, tanpa solusi karena saya bukan pencari solusi yang tepat. Tapi jika kamu mau solusi yang benar, silahkan merendahkan diri di hadapanNya.. Silahkan kembalikan pada Al-Qur'an&Hadits dan perkuat keyakinan kita, kepada Allah SWT yang maha mengatur segalanya... bergeraklah dalam rel yang benar dalam bidang yang kamu jalani dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai landasannya.



Agar kelak satu hari nanti, di suatu pagi yang tenang kita dapat menatap langit jingga pertanda sebuah sinar kebangkitan yang datang, pertanda kobaran semangat para pejuang Allah..dan kita dengan takzim dapat berkata: ISYHADU BIANNA MUSLIMUN...!!

0 komentar:

Posting Komentar